Diraba Kemaluannya, TKI Berontak dan Lari

Kompas.com - 29/05/2009, 12:42 WIB

BATAM, KOMPAS.com — Riayah (33), tenaga kerja Indonesia (TKI) asal Kendal, akhirnya melarikan diri dari majikan tempat kerjanya. Riayah nekat melarikan diri karena menghindari dari percobaan perkosaan yang dilakukan majikan itu.

Selama tiga bulan bekerja sebagai pembantu rumah tangga di rumah warga keturunan China di Jalan Mawar Nomor 1, Pasir Gudang Johor Bahru Malaysia, sudah tiga kali akan diperkosa majikan. Begitu juga kisah Sandrawati Ayu, TKI dari Kalimantan Barat mengaku sempat seminggu disekap di dalam kamar.

Awalnya pertama kerja sebagai pembantu rumah tangga, Riayah menganggap majikannya itu adalah orang yang baik dan mau membimbingnya selama berkerja.

Namun saat malam tiba dan sedang tidur, majikannya ini diam-diam berusaha masuk ke kamar tidurnya. Tanpa diketahui anggota keluarga lain, majikannya ini berusaha mencoba memperkosanya setiap saat.

Namun, usaha majikanya itu selalu gagal karena Riayah sering sadar dari tidurnya dan memberontak saat dipaksa melayani nafsu majikannya itu.

“Malam-malam dia datang ke kamar saya, memegang kemaluan saya, saya langsung berontak dan menendangnya sehingga anggota keluarga lainnya bangun dan percobaan perkosaan tidak jadi dilakukan,” ujarnya yang ditemui di penampungan sementara Dinas Sosial Batam, Kamis (28/5).

Maret lalu, Riayah nekat melarikan dari dari rumah majikannya itu dan selanjutnya dia langsung ditolong warga setempat dan dibawa ke Konjen RI Johor Barhu. Dari Konjen RI ini, Riayah bersama 11 TKI lainnya dipulangkan ke Indonesia melalui Batam.

Tidak hanya Riayah yang lari dari majikan, hal serupa juga dialami Rusniyati (19), bukan karena mau diperkosa majikan tetapi gajinya tidak dibayar selama delapan bulan bekerja.

Rusniyati yang bekerja di salah satu restoran mengaku kalau gajinya selama bekerja tidak pernah dibayar. Tidak itu saja, Rusniyatin juga sering dipukul oleh majikan jika malas bekerja dan meminta gajinya.

“Saya sering dipukul bahkan kepala saya sering dibenturkan ke tembok, kalau saya sedang malas kerja atau sakit. Jika saya menanyakan gaji kapan dibayar, langsung saja saya dimarahi dan dipukul,” ujarnya.

Disebutkan, jika terlambat datang dan lambat membuat air minum pesanan tamu atau mengantarkan makanan, dirinya kerap dimarahi bahkan di depan tamu yang sedang makan. Tidak itu saja, perlakuan kasar juga ditunjukkan kepada pengunjung restoran tempat dia bekerja.

Sementara Sandrawati Ayu, TKI asal Kalimantan Barat (Kalbar), mengatakan, ia terpaksa kabur dengan memanjat dinding rumah setelah disekap majikan selama seminggu. “Ada satu minggu saya dikunci dalam kamar,” papar Sandra, yang ke Malaysia hanya bermodalkan paspor.

Muhammad Hassan (60) juga minta dipulangkan ke Indonesia karena ditelantarkan istri. Hassan ditelantarkan istri yang berkewarganegaraan Malaysia setelah jatuh miskin.

Saat ditemui, ia tidak dapat berkomunikasi sempurna. Matanya pun tidak dapat melihat. “Mata saya kabur karena sakit kencing manis,” kata Muhammad Hassan.

Menurut staf KJRI Johor Bahru, Andrianto, kebanyakan TKI yang dipulangkan itu memiliki masalah dengan majikan dan melarikan diri dari rumah majikan. (bur)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau