Jadwal Ulang UN bagi Ratusan Pelajar SMAN

Kompas.com - 31/05/2009, 04:36 WIB

MADIUN, KOMPAS.com — Sedikitnya 140 pelajar SMAN 1 Wungu, Kabupaten Madiun, Jawa Timur, dijadwalkan mengikuti ujian nasional ulang yang diselenggarakan Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) Jakarta akibat dinyatakan tidak lulus dalam UN pada 20 April. Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Madiun Sumardi, Sabtu (30/5), membenarkan jika ratusan siswa di wilayahnya dinyatakan tidak lulus dan harus mengulang pada UN.
    
"Keputusan mengulang itu diambil oleh BSNP Jakarta, yang menemukan kesalahan secara serempak dari ratusan siswa tersebut pada lembar jawaban yang diujikan. Kesalahan serempak ini diketahui saat proses scanning pemeriksaan lembar jawaban ujian," ujarnya.
    
Dari hasil penyelidikan lebih lanjut, semua lembar jawaban dari 140 siswa SMAN 1 Wungu tersebut diketahui memiliki kesamaan kesalahan jawaban akibat mengisi soal ujian dengan kunci jawaban yang beredar via SMS gelap yang diterima siswa. "Dalam kasus itu, siswa yang menjadi korban sehingga timbul pola respons jawaban siswa berdasarkan kunci jawaban yang beredar melalui SMS gelap tersebut. Terus terang, saya sangat prihatin dengan kejadian ini dan menyayangkan kenapa para siswa percaya begitu saja dengan kunci jawaban tersebut," katanya.
    
Dari 140 siswa yang dijadwalkan ujian ulang, di antaranya terdiri atas 68 siswa jurusan IPA dan 72 siswa dari jurusan IPS, sedangkan mata pelajaran yang akan diujikan adalah untuk program IPA meliputi, Bahasa Indonesia dan Matematika.

"Mata pelajaran untuk jurusan IPS, meliputi Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Sosiologi, Geografi, dan Ekonomi. Ujian secara serempak akan dilakukan pada 8 hingga 12 Juni," katanya.
    
Mengatasi hal tersebut, Dinas Pendidikan Kabupaten Madiun juga telah mengundang para orangtua siswa untuk diberikan pengarahan agar lebih intensif mengawasi putra-putrinya dalam menghadapi ujian susulan yang akan datang.
    
"Beruntung para orangtua bisa menerima jika para putra-putrinya diberi kesempatan lagi untuk ujian, dengan catatan ikut intensif mengawasi pola komunikasi siswa guna menghindari hal-hal yang serupa," katanya.
    
Ia juga akan lebih mengawasi lagi penggunaan ponsel siswa, terutama menjelang saat-saat ujian meski pada ujian sebelumnya pengawas telah melarang siswa membawa ponsel selama ujian berlangsung. Sementara itu, hal yang sama juga terjadi pada ratusan siswa SMAN 2 Kabupaten Ngawi.
    
Kepala Dinas Pendidikan Ngawi Abimanyu mengakui jika para siswanya juga dijadwalkan oleh BSNP untuk ujian ulang pada 8 hingga 11 Juni akibat tidak lulus UN lalu. "Ujian tersebut serentak dilakukan oleh SMAN 2 Ngawi; SMAN 1 Wungu, Kabupaten Madiun; dan 17 sekolah lainnya di seluruh Indonesia. Jadi, tidak hanya SMAN 2 Ngawi," kata Abimanyu.
    
Menurut Abimanyu, mekanisme rinci ujian telah ditetapkan oleh BSNP Jakarta, sedangkan kalangan setempat hanya menjalankan. Ia berharap, dengan kesempatan ujian ulang, jumlah siswa yang tidak lulus dapat ditekan.
    
"Surat keputusan ujian nasional ulang berikut tata tertibnya telah diterbitkan oleh BSNP. Dinas pendidikan daerah tinggal melaksanakan," katanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau