SEOUL, KOMPAS.com - Mengabaikan tekanan internasional, Korea Utara (Korut) dilaporkan, Senin (1/6), memindahkan sebuah rudal jarak jauh ke satu pangkalan militer bagi satu rencana peluncuran yang akan meningkatkan ketegangan-ketegangan berkaitan dengan uji coba nuklirnya.
Sementara, Korea Selatan (Korsel) memperingatkan pihaknya tidak akan mentoleransikan ancaman-ancaman militer, kata surat kabar Joong Ang Ilbo yang mengutip para pejabat intelijen yang tidak disebut namanya. Sumber itu mengatakan sebuah kereta api yang mengangkut rudal itu telah tiba di pangkalan Dongchang-ri, Korut barat laut akhir pekan lalu.
Surat kabar itu juga memberitakan kedatangan rudal itu dari sebuah pabrik dekat Pyongyang, mengutip sumber-sumber pemerintah yang tidak disebut namanya.
Korut memiliki satu lokasi lain di Musudan-ri di pantai timur, tempat Pyongyang meluncurkan sebuah roket jarak jauh 5 April. Korut mengatakan pihaknya menempatkan sebuah satelit damai ke orbit tetapi negara-negara lain menanggapi peluncuran itu sebagai uji coba rudal yang disamarkan.
Ketegangan-ketegangan meningkat tinggi dalam pekan belakangan ini setelah rezim Kim Jong Il menguji coba sebuah bom nuklir untuk kedua kalinya, meluncurkan serangkaian rudal jarak pendek dan mengancam akan menyerang Korsel.
Presiden Korsel Lee Myung-Bak pada Senin memperingatkan bahwa Seoul "tidak akan pernah mentolerir" Korut mengambil "jalan ancaman dan provokasi militer."
"Kami dengan tulus mengharapkan perdamaian, tetapi akan menanggapi dengan keras setiap ancaman," katanya dalam satu pidato radio reguler, mendesak Korut menghentikan program senjata nuklir dan bergabung dengan masyarakat internasional.
Akan tetapi Pyongyang berikrar akan mendorong program nuklirnya.
Korut "akan memperkuat lebih jauh penangkal nuklirnya untuk melindungi ideologi dan sistemnya," kata kantor berita resmi KCNA dalam sebuah pernyataan, Senin.
Para diplomat di Dewan Keamanan PBB sedang membicarakan satu resolusi baru terhadap Korut untuk menghukum negara itu karena melakukan peluncuran terbaru nuklirnya -- kedua sejak tahun 2006.
Tetapi Pyongyang memperingatkan pihaknya akan melakukan "tindakan pertahanan diri tambahan" untuk menanggapi setiap sanksi dan berita-berita Senin itu kelihatannya untuk memberikan bukti baru bahwa pihaknya sedang bersiap-siap untuk melakukan uji coba rudal jarak jauh lainnya yang menurut teori dapat menjangkau Alaska, Amerika Serikat.
Kantor berita Yonhap melaporkan akhir pekan lalu bahwa Korut sedang bersiap-siap untuk meluncurkan rudal jarak jauh yang mungkin satu versi yang dimodifikasi dari Taepodong-2, yang Korut uji coba tahun 2006 dan April.
Pasukan Korsel dan Amerika di Semenanjung Korea berada dalam siaga tinggi untuk menghadapi setiap kemungkinan perang di perbatasan setelah peringatan Korut bagi kemungkinan serangan menanggapi keputusan Seoul untuk bergabung dalam prakarsa internasional pimpinan Amerika. Prakarsa itu bertujuan akan menghentikan penyebaran senjata-senjata pemusnah massal.
Korut melarang kapal-kapal melewati perairan lepas pantai barat laut sampai akhir Juli, kata Chosun Ilbo, sebuah harian penting lainnya.
Ancaman keamanan yang meningkat melatarbelakangi satu konferensi tingkat tinggi penting para pemimpin ASEAN dan Korsel di pulau Jeju, daerah wisata di selatan Korsel.
Seoul memberlakukan tindak keamanan ketat bagi pertemuan 1-2 Juni itu, dengan satu rudal darat ke udara didirikan dekat pusat pertemuan bersama dengan pos-pos pemeriksaan di jalan-jalan utama dan anjing-anjing pelack bom.
AS menegaskan pihaknya tidak akan menyetujui Korut sebagai sebuah negara nuklir dan memperingatkan uji coba senjata atom yang lebih banyak dapat memicu perlombaan senjata di Asia Timur.
Pyongyang keluar dari perundingan perlucutan nuklir yang diikuti enam negara setelah Dewan Keamanan PBB mengecam peluncuran roketnya 5 April dan memperketat sanksi-sanksi yang telah diberlakukan.
AS mengirim Wakil Menteri Luar Negeri James Steinberg dan utusan untuk Korut Stephen Bosworth untuk berkonsultasi dengan mitra-mitra lain dalam perundingan enam negara itu. Kedua orang itu kini berada di Jepang, salah satu dari anggota kelompok perundingan itu.