Korea Utara Bersikukuh

Kompas.com - 01/06/2009, 14:04 WIB

SEOUL, KOMPAS.com -  Mengabaikan tekanan internasional, Korea Utara (Korut) dilaporkan, Senin (1/6), memindahkan sebuah rudal jarak jauh ke satu pangkalan militer bagi satu rencana peluncuran  yang akan meningkatkan ketegangan-ketegangan berkaitan dengan uji coba nuklirnya.
    
Sementara, Korea Selatan (Korsel) memperingatkan pihaknya tidak akan mentoleransikan ancaman-ancaman militer, kata surat kabar Joong Ang Ilbo yang mengutip para pejabat intelijen yang tidak disebut namanya. Sumber itu mengatakan sebuah kereta api yang mengangkut rudal itu telah tiba di pangkalan Dongchang-ri, Korut barat laut akhir pekan lalu.
    
Surat kabar itu juga memberitakan kedatangan rudal itu dari sebuah pabrik dekat Pyongyang, mengutip sumber-sumber pemerintah yang tidak disebut namanya.
    
Korut memiliki satu lokasi lain di Musudan-ri di pantai timur, tempat Pyongyang meluncurkan sebuah roket jarak jauh 5 April.  Korut mengatakan pihaknya menempatkan sebuah satelit damai ke orbit tetapi negara-negara lain menanggapi peluncuran itu sebagai uji coba rudal yang disamarkan.
    
Ketegangan-ketegangan  meningkat tinggi dalam pekan belakangan ini setelah rezim Kim Jong Il  menguji coba  sebuah bom nuklir untuk kedua kalinya, meluncurkan serangkaian rudal jarak pendek dan mengancam akan menyerang Korsel.
    
Presiden Korsel Lee Myung-Bak pada Senin memperingatkan bahwa Seoul  "tidak akan pernah mentolerir" Korut mengambil "jalan ancaman dan provokasi militer."
    
"Kami dengan tulus mengharapkan perdamaian, tetapi akan  menanggapi dengan keras setiap ancaman," katanya dalam satu pidato radio reguler, mendesak Korut menghentikan program senjata nuklir dan bergabung dengan masyarakat internasional.
    
Akan tetapi Pyongyang berikrar akan mendorong program nuklirnya.
    
Korut "akan memperkuat lebih jauh penangkal nuklirnya untuk melindungi ideologi dan sistemnya," kata kantor berita resmi KCNA  dalam sebuah pernyataan, Senin.
    
Para diplomat di Dewan Keamanan PBB sedang membicarakan satu resolusi baru terhadap Korut untuk menghukum negara itu karena melakukan peluncuran terbaru nuklirnya -- kedua sejak tahun 2006.
    
Tetapi Pyongyang memperingatkan pihaknya akan melakukan "tindakan pertahanan diri tambahan" untuk menanggapi setiap sanksi dan berita-berita Senin itu kelihatannya untuk memberikan bukti baru bahwa pihaknya sedang bersiap-siap untuk melakukan uji coba  rudal jarak jauh lainnya  yang menurut teori dapat menjangkau Alaska, Amerika Serikat.
    
Kantor berita Yonhap melaporkan akhir pekan lalu bahwa Korut sedang bersiap-siap untuk meluncurkan rudal jarak jauh yang mungkin  satu versi yang dimodifikasi dari Taepodong-2, yang Korut uji coba  tahun 2006 dan April.
    
Pasukan Korsel dan Amerika di Semenanjung Korea berada dalam siaga tinggi untuk menghadapi setiap kemungkinan perang di perbatasan setelah peringatan  Korut  bagi kemungkinan serangan menanggapi keputusan Seoul untuk bergabung dalam prakarsa internasional pimpinan Amerika. Prakarsa itu bertujuan akan menghentikan penyebaran senjata-senjata pemusnah massal.
    
Korut melarang kapal-kapal melewati perairan lepas pantai barat laut sampai akhir Juli, kata Chosun Ilbo, sebuah harian penting lainnya.
    
Ancaman keamanan yang meningkat melatarbelakangi satu konferensi tingkat tinggi penting  para pemimpin ASEAN dan Korsel di pulau Jeju, daerah wisata di selatan Korsel.
    
Seoul memberlakukan tindak keamanan ketat bagi pertemuan 1-2 Juni itu, dengan satu rudal darat ke udara  didirikan dekat pusat pertemuan  bersama dengan pos-pos pemeriksaan di jalan-jalan utama dan anjing-anjing pelack bom.
    
AS menegaskan pihaknya tidak akan menyetujui Korut sebagai sebuah negara nuklir dan memperingatkan uji coba senjata atom yang lebih banyak dapat memicu perlombaan senjata di Asia Timur.
    
Pyongyang keluar dari perundingan perlucutan nuklir yang diikuti enam negara setelah Dewan Keamanan PBB mengecam peluncuran roketnya 5 April dan memperketat sanksi-sanksi yang telah diberlakukan.
    
AS mengirim Wakil Menteri Luar Negeri James Steinberg dan utusan untuk Korut Stephen Bosworth  untuk berkonsultasi dengan mitra-mitra lain dalam perundingan enam negara itu. Kedua orang itu kini berada di Jepang, salah satu dari anggota kelompok perundingan itu.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau