Presiden: Hubungan Korea-ASEAN Harus Masuki Babak Baru

Kompas.com - 01/06/2009, 21:54 WIB

PULAU JEJU, KOMPAS.com — Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan, peringatan 20 tahun hubungan negara-negara ASEAN dengan Republik Korea harus memasuki babak baru, yaitu dengan mengembangkan kerja sama dan peningkatan hubungan antarbangsa dan pemerintahan yang lebih luas dan mendalam. Hal itu sangat diperlukan untuk menghadapi tantangan abad ke-21 yang berbeda dengan tantangan 20 tahun silam.

Babak baru itu harus ditandai bukan hanya kerja sama antarpemerintah yang utama, tetapi juga harus menyentuh dimensi antarmasyarakat di negara-negara ASEAN dengan Republik Korea, seperti pertukaran pelajar, hubungan budaya, kerja sama sektor swasta, kerja sama kota kembar, dan peningkatan turisme. Kerja sama yang mendalam ASEAN dengan Republik Korea juga harus lebih mengutamakan riset dan pengembangan ilmu pengetahuan yang memungkinkan setiap negara ASEAN dan Korea dapat meningkatkan daya saingnya di bidang ekonomi.

Demikian disampaikan Presiden Yudhoyono saat berpidato di pertemuan tingkat tinggi (KTT) negara-negara ASEAN dengan Republik Korea yang disebut ASEAN-ROK Commemorative Summit di International Convention Centre Pulau Jeju, Korea, Senin (1/6) sore waktu setempat. Dalam pertemuan itu, Presiden didampingi sejumlah menteri, di antaranya Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda dan Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu. Dalam kesempatan itu, hadir sembilan kepala negara ASEAN, termasuk Presiden Korea Lee Myung Bak.

"Kita, di sini, bukan hanya untuk merayakan 20 tahun hubungan kita. Akan tetapi, juga untuk mencatat masa depan hubungan ASEAN-Republik Korea pada Abad ke-21. Babak baru hubungan ASEAN dengan Republik Korea juga harus ditandai dengan ikut aktif dalam mengambil bagian masalah-masalah global yang strategis dan krusial seperti perubahan iklim dan pemanasan global. Negara-negara ASEAN dan Korea tidak mampu menciptakan pertumbuhan ekonomi di kawasan. Namun, juga harus punya andil menciptakan pertumbuhan yang ramah lingkungan, serta bersam-sama mengurangi dampak pemanasan global dan menciptakan kawasan hijau bagi pembangunan," kata Presiden.

Dalam jangka pendek, tambah Presiden Yudhoyono, ASEAN dan Republik Korea harus bekerja keras untuk menyelesaikan masalah krusial sebagai tindak lanjut Peta Jalan Bali dan Rencana Bali untuk Aksi Tindak, untuk komitmen menciptakan iklim global yang baru. "Pemerintah Korea telah berkomitmen dalam program green growth, sementara ASEAN memiliki kekayaan hutan tropis sehingga kita bisa melakukan secara bersama untuk mengurangi dampak emisi rumah kaca," lanjut Presiden.

ASEAN dan Republik Korea harus bekerja sama secara intensif dalam ketahanan serta keamanan pangan dan energi, sebagai isu utama dalam kehidupan masyarakat untuk bertahan hidup. "Pada akhirnya, kita juga harus menjalin kemitraan untuk mewujudkan bangunan abad ke-21 yang lebih stabil, dianamis dan penuh damai. ASEAN dan Republik Korea memiliki kesempatan yang kuat untuk mewujudkan perdamaian dan persahabatan. Saatnya bagi kita sekarang menghadapi tantangan baru dengan kemampuan kita sepenuhnya," kata Presiden.

Karena pilpres

Terhadap perjalanan 20 tahun hubungan ASEAN dengan Republik Korea, Presiden Yudhoyono memberikan beberapa catatan di mana hubungan ASEAN dan Republik Korea ditandai dengan perang dingin, hubungan yang masih terbatas dan sektoral, serta hubungan yang pasang surut dan kemitraan sebatas di kawasan regional dan bukan menyeluruh.

Di awal sambutannya, Presiden Yudhoyono menyatakan rasa terima kasihnya mendapat undangan untuk menghadiri pertemuan ASEAN dengan Republik Korea di Pulau Jeju sehingga ia bisa melihat salah satu warisan dunia yang direkomendasikan Unesco. Namun, Presiden mengakui dirinya tidak bisa mengikuti penuh pertemuan tersebut, mengingat negaranya tengah menghadapi pesta demokrasi menjelang pemilu presiden dan wakil presiden. Oleh sebab itu, ia tidak bisa mengikuti seluruh pertemuan yang telah dijadwalkan sebelumnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau