Treub dan Gagasan Silang Monas

Kompas.com - 02/06/2009, 17:44 WIB

KOMPAS.com — Berawal dari Voorschoten, sebuah kampung di Randstad, di  barat  Belanda yang masuk dalam Provinsi Holland Selatan. Di kampung inilah Melchior Treub lahir pada 1851. Boleh jadi, banyak pembaca yang belum pernah mendengar nama ahli botani Belanda ini. Kelar kuliah di Universitas Leiden, menjadi ahli botani di sini, kemudian pada 1880-1909, ia pindah ke Hindia Belanda.

Ia dikenang atas hasil kerja terkait flora tropis di Jawa. Bogor Botanical Gardens atau Kebun Raya Bogor adalah tempat Treub mengabdi sebagai direktur selama 30 tahun. Tempat ini mendapat pengakuan internasional sebagai lembaga ilmiah di bidang botani. Sebagai ahli tetumbuhan, ia berencana membuat jalan silang yang memotong Koningsplein.

Sebelum menjadi Koningsplein atau Lapangan Raja dan kemudian menjadi Medan Merdeka atau Lapangan Monumen Nasional (Monas), lapangan terbesar di dunia inimeliputi hampir 1 km persegipernah dijadikan lapangan latihan militer oleh Daendels pada 1809 dan diberi nama Champs de Mars. Sebelum itu, demikian seperti ditulis Adolf Heuken dalam Tempat-tempat Bersejarah di Jakarta, lapangan ini bernama Buffelsveld (Lapangan Kerbau).

Seusai masa kuasa Inggris, lapangan itu kemudian diberi nama Koningsplein atau Lapangan Raja. Gubernur jenderal mulai tinggal di istana negara, maka beberapa instansi pemerintah dan kantor perusahaan besar mulai dibangun di pinggir lapangan ini sejak awal abad ke-19.

Kembali ke gagasan Treub untuk mengatur lapangan Koningsplein, rencana itu sebagai upaya membuat lapangan itu menjadi lebih bermanfaat dari hanya sekadar lapangan rumput nan luas. Rencana ini terlontar di tahun 1892 dalam sebuah tulisan ilmiah di majalah Teysmannia.

Jalan-jalan yang disarankan Treub mirip dengan Jalan Silang Monas kini. Jalan silang ini bertemu di satu titik berupa bundaran tepat di Monumen Nasional kini berdiri. Dalam tulisan itu, ia juga menyarankan agar di tengah bundaran dibikin kolam atau monumen kecil, sekeliling bundaran dihias petak-petak bunga. Di antara kelompok pohon, yang disarankan Treub, yang mengelilingi bundaran itu dapat dibangun kios atau rumah bola untuk pertunjukan musik di udara terbuka.

Dalam tulisan itu, Treub tak lupa mengurai keunikan lapangan seluas sekitar 90 ha itu. Dibandingkan dengan lapangan di kota-kota besar lain di dunia pada masa itu, lapangan Koningsplein tak tertandingi. Saint James Park dan Green Park di London hanya sekitar sepertiga Koningsplein, tulis Treub.   
      
Namun sayang, rencana ini ternyata tak ditanggapi penguasa masa itu. Namun, 25 tahun kemudian, kotapraja mengajukan rencana baru tentang lapangan itu, yaitu balai kota yang diusulkan berada di sisi utara berhadapan dengan istana. Demikian ditulis Siswadhi dalam "Silang Monas Ide Tahun 1892". Rencana ini juga dilengkapi dengan rencana jalan, taman, lapangan olahraga. Lagi-lagi rencana ini kandas.

Tahun 1934 dan 1937, rencana ini muncul kembali dan juga berakhir tenggelam. Dalam rencana tahun 1934, balai kota ditempatkan di Monumen Nasional kini kemudian dari sini dibangun jalur ganda ke Merdeka Utara. Di kiri-kanan dibangun gedung pemerintahan plus Stadion Ikada. Tahun 1937, revisi rencana mencantumkan, bangunan di sepanjang jalan ke balai kota dihapuskan dan Stasiun Gambir digeser ke utara.

Kemudian datanglah masa itu, masa 1960-an di saat Presiden pertama RI, Soekarno, kemudian membangun Monumen Nasional (Monas) sekaligus jalan silangnya. Setelah 70 tahun gagasan Treub terlunta-lunta, akhirnya Soekarno yang menuntaskan semua rencana. Ia memerintahkan rancangan menyeluruh untuk lapangan dan daerah sekitarnya hingga ke Jalan Thamrin. Bangunan lama seperti Istana dan Willemskerk, gereja di seberang Stasiun Gambir, dipertahankan.

Kini, lebih dari seabad sejak Treub melontarkan rancangan dan gagasan atas lapangan Koningsplein, Lapangan Monas dibiarkan terbuka dengan berbagai jenis pepohonan, air mancur, bahkan ditambah atraksi rusa, yang tak terdengar lagi kabarnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau