Gubernur/Wagub Jatim Tak Akan Jadi Jurkam

Kompas.com - 02/06/2009, 21:27 WIB

SURABAYA, KOMPAS.com — Gubernur Jawa Timur Soekarwo dan Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf memilih tak akan menjadi juru kampanye salah satu pasangan capres dan cawapres. Mereka tidak akan mengambil cuti dan tetap menjalankan tugas kepemimpinan.

"Saya dan Gus Ipul (Saifullah Yusuf) tidak menjadi juru kampanye salah satu pasangan. Kami rasa ini lebih produktif," kata Gubernur Soekarwo, Selasa (2/6), setelah menghadiri Pembukaan Musyawarah Kerja Wilayah I Pimpinan Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Timur, di Surabaya.

Meski demikian, secara protokoler baik gubernur maupun wakil gubernur akan tetap mendampingi capres atau cawapres incumbent yang kebetulan berkampanye di Jawa Timur. "Dalam situasi seperti ini, secara protokoler saya harus hadir dan mendampingi. Tapi jika yang datang kebetulan capres atau cawapres yang bukan presiden atau wakil presiden (incumbent), maka saya tak harus menemani," jelasnya.

Soekarwo dan Saifullah menyatakan sikapnya untuk bertindak secara fair dalam kampanye capres-cawapres. Selain tak mengambil cuti, mereka beritikad akan tetap menjalankan program pemerintahan.

"Masalah kampanye bukan perkara mau atau tidak mau. Mau dan tidak mau kan hanya sisi hitam dan putih, tetapi yang terpenting adalah mana yang lebih produktif," ujar Soekarwo.

Tak dibatasi

Terkait keterlibatan para kepala daerah dalam kampanye salah satu pasangan capres-cawapres, Soekarwo mengatakan, gubernur mengharapkan para kepala daerah dapat memilah-milah mana kepentingan yang harus didahulukan dan mana yang tidak. Program pemerintahan harus tetap jalan dan kondisi masyarakat harus tetap stabil.

"Ini tak bisa dilarang karena memihak pasangan tertentu adalah hak setiap orang yang diatur undang-undang. Namun, jika para kepala daerah ingin menjadi juru kampanye mereka harus mengajukan cuti terlebih dulu," kata Soekarwo.

Saifullah Yusuf menyatakan, hingga sekarang belum ada tawaran kampanye dari ketiga kubu pasangan capres-cawapres. Saifullah berharap, tak ada pasangan capres-cawapres yang akan memintanya untuk berkampanye.

Dalam deklarasi gerakan pro SBY dan temu tokoh Jawa Timur, Rabu (27/5) lalu di Surabaya, baik Soekarwo maupun Saifullah tercantum sebagai bagian anggota dewan pembina gerakan pro-SBY. Namun, Saifullah membantah hal tersebut.

"Saya tidak tahu dan merasa tak terlibat. Saya sendiri tak pernah diminta untuk itu," ucap Saifullah.

Mesin politik

Pengajar ilmu politik Universitas Airlangga, Airlangga Pribadi, mengatakan, ketidakterikatan dan netralitas kepala daerah pada parpol atau pasangan capres-cawapres tertentu merupakan konsekuensi praktis dalam posisi mereka sebagai pejabat publik. Pasalnya, dengan sikap keberpihakan, maka pejabat dapat menjadi mesin politik bagi kelompok tertentu.

Menurut Airlangga, mulai sejak terpilih sebagai kepala daerah, seorang pejabat publik seharusnya tak memiliki keterikatan pada parpol atau kubu tertentu.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau