Ekonomi Indonesia Tidak Mengkhawatirkan

Kompas.com - 03/06/2009, 12:01 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Pengamat ekonomi dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Aviliani, menyatakan tidak khawatir atas pertumbuhan ekonomi Indonesia karena pada triwulan pertama 2009 sudah terjadi pertumbuhan mencapai 1,6 persen.

"Jika dikejar lagi maka optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia akan mencapai 3,2 persen, tetapi yang jadi masalah adalah kualitas pertumbuhan ekonomi itu," katanya di Jakarta, Rabu.

Ia mengatakan hal itu terkait kondisi ekonomi RI yang dinilai sebagian kalangan masih rapuh, indikasinya penerimaan pajak ekspor dan bea masuk turun dan bagaimana seharusnya usaha pemerintah mempertahankan pertumbuhan ekonomi yang dipatok 4,5 persen tahun 2009 itu.

Menurut dia, sektor usaha tidak membawa pengusaha untuk mau melakukan ekspansi karena rupiah belum stabil apalagi melakukan ekspor. "Pada sisi ini negara penerima ekspor pun tentu akan membatasi barang-barang impor agar tidak melakukan PHK terhadap karyawannya," katanya.

Sementara sektor usaha di RI, katanya, memang agak stagnan yang bergerak masih di sektor pangan, makanan dan minuman, dan selama tiga bulan terakhir sektor itu menunjukkan kenaikan.

Ini menjadi anomali, jadi sektor ekonomi yang bergerak di RI adalah perdagangan, tetapi sebaliknya  sektor industri mempunyai masalah kecuali dalam kontrak pengiriman barang-barang kendati terjadi krisis ekonomi global.

Ia menilai, krisis ekonomi global tidak dialami di Indonesia seperti yang pernah diisukan masyarakat  akan terjadinya PHK besar-besaran karena usaha manufaktur masih jalan terus.

Namun, di luar sektor riil seperti bank memang menurun. Cuma masalah di Indonesia, sektor yang bergerak cukup berasal pada pasar modal dari investor asing, bukan masuk ke sektor riil. "Kalau investasi asing di pasar modal itu ke luar, maka itu akan menimbulkan masalah ke dalam negeri karena secara fundamental belum mendukung sektor riil," katanya.

Kedua sektor di atas, katanya, yang dibutuhkan adalah insentif pajak dan fiskal pada sektor industri atau riil sehingga pemerintah ke depan harus mengurangi investasi nonsektor riil karena belum berdampak pada masyarakat, tambahnya. 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau