Perang dengan Malaysia Urusan DPR dan Presiden

Kompas.com - 03/06/2009, 13:02 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Masyarakat Indonesia kembali panas terhadap Malaysia ketika kapalnya kembali memasuki perbatasan Pulau Ambalat. Di tahun ini saja sudah 11 kali mereka melewati batas perairan Ambalat. Hal ini membuat isu perang berembus dari sejumlah kalangan.

Kalau urusan perang itu kepentingan DPR dan Presiden sebagai panglima tertinggi TNI," kata Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Laut Laksamana Pertama TNI Iskandar Sitompul saat ditemui di tengah Konferensi Pers Sail Bunaken 2009 di Graha Marinir Jakarta, Rabu (3/6).

Lebih lanjut ia mengatakan bahwa TNI AL bertindak berdasarkan prosedur standar operasional (SOP) yang berlaku. "Berdasarkan SOP kami terus berkomunikasi kepada mereka saat memasuki Indonesia. Setelah itu mengadakan pengawalan. Tidak boleh menembak," ungkap Iskandar.

Kemudian ia menjelaskan bagaimana prosedur pengambilan tindakan terkait pelanggaran batas teritorial laut ini. TNI AL yang mengetahui ada kapal Malaysia masuk ke Ambalat memberikan informasi kepada Mabes TNI. Informasi ini diteruskan kepada Departemen Luar Negeri (Deplu). "Dari situ Deplu membuat nota diplomatik kepada Malaysia. Kenapa kapal Anda kok bisa seperti ini?" jelas Iskandar.

Menurut Iskandar, persoalan utama mengapa kapal Malaysia masuk beberapa kali ke perairan Ambalat adalah soal Peta 1979. Peta ini, katanya, dibuat Malaysia secara sepihak tanpa konfirmasi pada negara-negara tetangga termasuk Indonesia.

"Tiap negara wajib memberitahu negara tetangganya ketika membuat peta. Kalau Indonesia buat peta, kita juga beritahu Malaysia. Dan tidak ada masalah," tutur Iskandar.

Dengan demikian, tambahnya, persoalannya bukan pada hubungan politik yang memanas sehingga berpotensi perang. "Hubungan kedua kepala negara baik kok," katanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau