Caleg Tuna Netra itu Bisa Batal Sebagai Anggota DPRD Bantul

Kompas.com - 04/06/2009, 02:04 WIB

BANTUL, KOMPAS-Menyikapi ditangkapnya Tur Haryanto (40) caleg tuna netra yang diduga terlibat kasus penipuan, Komisi Pemilihan Umum Bantul memakai azas praduga tak bersalah dulu.

"Sesuai aturan, yaitu UU Nomor 10 Tahun 2008 Tentang Pileg, kami akan memakai azas itu sebelum ada vonis atau tuntutan penjara dari jaksa di persidangan nanti," ujar Nurudin Latif, anggota KPU Bantul, Rabu (3/6) sore.

Jika tuntutannya lima tahun atau lebih, menurut Latif, caleg Partai PAN ini akan dicoret, alias batal jadi anggota DPRD Bantul periode 2009-2014. Jika tuntutan jaksa di bawah lima tahun, KPU menyerahkan nasib Tur ke PAN.

Suharwanto, Ketua PAN Bantul berujar, pihaknya memilih menunggu dulu hasil pemeriksaan terhadap Tur.

Sementara itu, Sujami, kuasa hukum Tur, menuding ada oknum tak bertanggung jawab di balik penangkapan Tur. Sujami menuding polisi tak berlaku profesional saat menangkap Tur. Sebab ketika ditangkap Senin malam lalu, polisi tak membawa surat penangkapan. "Saya tak mau menyinggung apakah kasus ini ada muatan politisnya. Saya orang hukum, bicara hukum," kata Sujami.

Menyinggung diagnosis awal tim dokter RS Panembahan Senopati bahwa Tur hipertensi, Tukijan, ayah Tur menduga anaknya mungkin kebanyakan pikiran dan stres karena merasa dijebak oknum tak bertanggung jawab. "Tapi mungkin juga karena makanan. Tur suka sate apa saja," ujarnya. Faktor lain pemicu hipertensi adalah rokok, dan Tur dikenal sebagai perokok.

Tur, anak ketiga dari empat bersaudara ini, sekarang menjabat sebagai Direktur Jaringan Peduli Rakyat (Japera)-LSM yang bergerak di bidang sosial kemasyarakatan. Ia mendapat gelar sarjana hukum dari Universitas Widya Mataram Yogyakarta tahun 1991. Ia lantas mengambil program notariat di UGM. Sejak mahasiswa ia sudah aktif di sejumlah LSM. Sejak mahasiswa pula, hingga tahun 2006, Tur masih menggeluti profesi sebagai petani bawang merah.

Tur dulu bisa melihat. Namun ketika berumur 11 tahun, matanya tak sengaja tertimpa pintu kayu jati. Sejak saat itu penglihatannya kabur dan akhirnya buta.   

 

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau