BANTUL, KOMPAS-Menyikapi ditangkapnya Tur Haryanto (40) caleg tuna netra yang diduga terlibat kasus penipuan, Komisi Pemilihan Umum Bantul memakai azas praduga tak bersalah dulu.
"Sesuai aturan, yaitu UU Nomor 10 Tahun 2008 Tentang Pileg, kami akan memakai azas itu sebelum ada vonis atau tuntutan penjara dari jaksa di persidangan nanti," ujar Nurudin Latif, anggota KPU Bantul, Rabu (3/6) sore.
Jika tuntutannya lima tahun atau lebih, menurut Latif, caleg Partai PAN ini akan dicoret, alias batal jadi anggota DPRD Bantul periode 2009-2014. Jika tuntutan jaksa di bawah lima tahun, KPU menyerahkan nasib Tur ke PAN.
Suharwanto, Ketua PAN Bantul berujar, pihaknya memilih menunggu dulu hasil pemeriksaan terhadap Tur.
Sementara itu, Sujami, kuasa hukum Tur, menuding ada oknum tak bertanggung jawab di balik penangkapan Tur. Sujami menuding polisi tak berlaku profesional saat menangkap Tur. Sebab ketika ditangkap Senin malam lalu, polisi tak membawa surat penangkapan. "Saya tak mau menyinggung apakah kasus ini ada muatan politisnya. Saya orang hukum, bicara hukum," kata Sujami.
Menyinggung diagnosis awal tim dokter RS Panembahan Senopati bahwa Tur hipertensi, Tukijan, ayah Tur menduga anaknya mungkin kebanyakan pikiran dan stres karena merasa dijebak oknum tak bertanggung jawab. "Tapi mungkin juga karena makanan. Tur suka sate apa saja," ujarnya. Faktor lain pemicu hipertensi adalah rokok, dan Tur dikenal sebagai perokok.
Tur, anak ketiga dari empat bersaudara ini, sekarang menjabat sebagai Direktur Jaringan Peduli Rakyat (Japera)-LSM yang bergerak di bidang sosial kemasyarakatan. Ia mendapat gelar sarjana hukum dari Universitas Widya Mataram Yogyakarta tahun 1991. Ia lantas mengambil program notariat di UGM. Sejak mahasiswa ia sudah aktif di sejumlah LSM. Sejak mahasiswa pula, hingga tahun 2006, Tur masih menggeluti profesi sebagai petani bawang merah.
Tur dulu bisa melihat. Namun ketika berumur 11 tahun, matanya tak sengaja tertimpa pintu kayu jati. Sejak saat itu penglihatannya kabur dan akhirnya buta.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang