JAKARTA, KOMPAS.com — Tagline Jusuf Kalla "Lebih cepat lebih baik" dikomentari tak efektif mendongkrak perolehan suara Golkar pada pemilu legislatif, bahkan pada elektabilitas JK sendiri. Direktur Riset Lembaga Survei Indonesia (LSI) Kuskrido Ambardi mengatakan, berdasarkan survei terakhir LSI, 25-30 Mei, slogan tersebut tidak membawa pengaruh besar pada persepsi publik.
"Tagline itu mungkin dianggap sangat teknis dan di mata pemilih tidak atau kurang penting," kata Kuskrido yang akrab disapa Dodi pada jumpa pers di Kantor LSI, Jakarta, Kamis (4/6).
Menanggapi hasil survei yang menunjukkan elektabilitas JK-Wiranto yang berada di kisaran 6-7 persen, anggota Tim Kampanye JK-Wiranto, Indra J Piliang, mengatakan, survei dilakukan saat masa kampanye belum dimulai sehingga, menurutnya, tidak menjawab persepsi publik saat ini. "Pada tanggal-tanggal itu (25-30 Mei) peristiwa politiknya kan baru deklarasi. Masa kampanye juga belum berjalan dan masing-masing pasangan masih melakukan konsolidasi," kata Indra.
Mengenai tagline tersebut, ia merasa yakin sudah berhasil masuk ke memori publik. "Dan kami juga yakin bisa mengubah persepsi publik lewat kampanye. Kami tidak akan mengganti. Nanti kalau diganti, ada yang komentar 'Lebih cepat diganti'," katanya.
Indra mengatakan, kampanye JK-Wiranto akan lebih mengangkat hal-hal yang bersifat kompetensi. Berdasarkan survei LSI, responden menekankan pada aspek integritas, empati, kompetensi, dan kecepatan sebagai syarat utama yang harus dimiliki pasangan capres dan cawapres.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang