JAKARTA, KOMPAS.com - Para pengembang menyambut gembira pemangkasan suku bunga acuan Bank Indonesia atau BI Rate sebesar 0,25 persen menjadi 7 persen kemarin (3/6). Mereka yakin penurunan BI Rate akan mendorong penurunan bunga kredit kepemilikan rumah (KPR) meupun kredit kepemilikan apartemen (KPA). Buntutnya, bisnis properti bisa lebih bergairah.
Selain itu, inflasi belakangan ini juga cukup rendah. Walhasil, "Daya beli sektor properti pun ikut terdongkrak," ujar Ketua Umum Real Estate Indonesia (REI), Teguh Satria Rabu (3/6).
Indra Hartono, Direktur Pemasaran Agung Podomoro Group menyampaikan pandangan yang sama. Menurutnya, penurunan BI Rate secara langsung bisa meningkatkan permintaan di pasar properti. "Berdasarkan pengamatan kami, setiap BI Rate turun permintaan pasar naik antara 10 hingga 15 persen," katanya.
Pengembang properti memang tergantung pada suku bunga. Ketika bunga tinggi karena krisis sejak September lalu, mereka sulit menjual produknya. Banyak agen pemasaran yang mengeluhkan penundaan pembelian oleh konsumen. "Pengembang sulit berekspansi," ujar Teguh.
Saat ini, suku bunga KPR dan KPA masih bertengger di kisaran 13 hingga 15 persen. "Dalam kondisi sekarang, idealnya suku bunga bisa 11 persen," ujar Teguh.
Sedangkan Jessica Quantero, Direktur Kemang Village lebih keras mendesak. "Seharusnya bunga KPR sekarang satu digit maksimal 9 persen," tegasnya.
Menurut Teguh, paling tidak sebelum memasuki semester II-2009, perbankan sudah harus menunjukkan itikad baiknya dengan memangkas suku bunga KPR. "Semenjak krisis, bank terlihat malas-malasan merespon penurunan BI Rate," kata Teguh.
Jessica pun sepakat. "Perbankan biasanya butuh waktu dua bulan untuk merespon penurunan BI Rate," tandasnya. Artinya, sudah waktunya bunga KPR turun saat ini. (KONTAN/Nadia Citra Surya).
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang