LP3ES: DPT Bermasalah Masih Akan Terjadi dalam Pilpres

Kompas.com - 04/06/2009, 17:25 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Sampai pada pemilu legislatif lalu, Lembaga Penilitian, Pendidikan, Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) selalu mengadakan audit data pemilih pada tiap pemilu. Akan tetapi, untuk pemilu presiden mendatang, audit sejenis tidak ada.

Kepala Program Pemilu LP3ES Adnan Anwar menyatakan, sebenarnya ada penyandang dana yang mau membiayai proyek audit data pemilih itu, tetapi ternyata itu ditolak Bappenas. Ia juga mengaku tidak tahu alasan penolakan audit yang sebenarnya sangat penting karena terkait dengan daftar pemilih tetap (DPT).

"Metodenya sangat khas, hanya LP3ES yang sampai saat ini bisa melakukannya," kata Adnan Anwar seusai acara "Media Gathering Advokasi Hak Pemilih pada Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden 2009" yang diadakan Jaringan Pendidikan Pemilih untuk Rakyat (JPPR) di Jakarta, Kamis (4/6).

Menurut Adnan, audit yang katanya memakan waktu satu bulan itu menggunakan metode people to list dan list to people. Metode people to list adalah meneliti ada-tidaknya kesenjangan data dari masyarakat ke DPT. Sedangkan to list people adalah mengecek kesenjangan dari data DPT ke masyarakat.

"Yang kami dapatkan pada pileg kemarin ada kesenjangan 20,8 persen atau 10-12 juta orang," kata Adnan. Sayangnya, 10-12 juta masyarakat yang tidak terdaftar dalam DPT itu masih tetap ada pada pilpres nanti.

Karena penambahan 5,1 juta pada DPT berasal dari pemilih pemula dan pensiunan. "Jadi KPU dan pemerintah tampak tidak serius dalam menanggapi masalah DPT," ungkapnya.

Padahal, posisi DPT sangat strategis dalam pemilu. "DPT adalah kunci kemenangan," pungkas Adnan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau