Aneh ! Anak 10 Tahun Idap Kanker Payudara

Kompas.com - 05/06/2009, 09:25 WIB

FULLERTON,KOMPAS.com-Gadis cilik yang berusia 10 tahun, Hannah Powell-Auslam, dari Southern California, mengejutkan dunia ketika ia didiagnosis terserang kanker payudara.

Vonis dokter itu diterimanya April 2009 dan ia telah menjalani operasi pengangkatan kanker langka yang disebut invasive secretory carcinoma. Menurut catatan kedokteran kanker ini diketahui pertama kali menyerang anak pada 1960, tetapi hingga sekarang pun kasusnya amat jarang.

Sekarang, Hannah sedang menjalani kemoterapi. Meski sudah mulai kehilangan sebagian rambutnya, gadis kelas 5 SD itu tetap bersemangat dan bertekad mengalahkan penyakit mematikan itu.
“Saya selalu berusaha memandang sisi positif segala hal,” kata Hannah, dalam wawancara yang ditayangkan dalam acara ABC Good Morning America, Rabu (3/6).

Hannah, menurut keluarganya, adalah gadis paling muda yang diketahui dan didiagnosis terserang kanker payudara setelah mengeluh gatal di bagian samping tubuhnya, April lalu. Sang ibu, Carrie, kemudian menemukan ada benjolan, dan ketika diperiksa lebih teliti ke dokter, benjolan itu ternyata kanker.

“Rasanya seperti sakit sepanjang waktu. Rasanya saya ingin berbaring di ranjang dan di kota kecil tertutup,” kata Hannah mengenai dampak kemoterapi yang dijalaninya.

Dalam upaya yang mendebarkan guna menyelamatkan nyawa Hannah, para dokter mengambil payudara kiri Hannah yang sebenarnya bisa dikatakan belum tumbuh pada 7 Mei.

Hannah merupakan satu dari antara segelintir bocah yang menderita kanker semacam itu. Namun karena umumnya pengobatan kanker dikembangkan untuk manusia dewasa, maka kemoterapi yang dijalani Hannah pun diperkecil kadarnya. ”Saya masih merasa sebagai anak-anak, tetapi, begitu tiba di rumah sakit, sepertinya saya jadi orang dewasa,” kata bocah periang itu.

Salah satu peristiwa yang mengharukan terjadi ketika Hannah hendak memulai kemoterapi yang dampaknya bisa merontokkan rambut. Waktu itu, seluruh keluarganya berkumpul untuk membuat suatu upacara selamat tinggal bagi rambutnya. Hannah memilih memotong dulu rambutnya sebelum kemoterapi berdampak. Begitu rambutnya dipotong seluruh keluarga bertepuk tangan. Bahkan, sang ayah, kakek dan adik laki-lakinya ikut memotong rambutnya sebagai tanda solidaritas.

“Ini memang menyakitkan. Dia tidak seharusnya melakukan itu. Saya bilang padanya ribuan kali, ‘Kalau saja aku bisa ambil itu darimu, akan aku lakukan’,” kata Carrie.

Dr Marisa Weiss, presiden dan pendiri Breastcancer.org yang juga penulis buku Taking Care of Your ‘Girls’: A Breast Health Guide for Girls, Teens, and In-Betweens (2008), mengatakan, munculnya sel kanker yang diderita Hannah itu bisa dipicu oleh polutan, pestisida dan hormon yang terkandung dalam makanan dan minuman tertentu.

“Kanker jenis ini sangat langka terjadi pada anak usia 10 tahun, dan kami sebenarnya belum tahu secara pasti mengapa bisa demikian. Kami pikir hormon esterogen punya peran penting dalam menumbuhkan sel kanker ini,” kata Marisa.

Weiss kini punya program berskala internasional yang dirancang untuk mendidik gadis usia 8-18 tahun tentang kesehatan payudara dan pencegahan kanker payudara. Ia sangat bersemangat tentang pendidikan pengetahuan tentang kanker pada perempuan sedini mungkin. “Memang jarang terjadi kanker pada anak kecil, tetapi bagaimana pun kejadian itu ada,” katanya.abcnews/sas

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau