Kopi Lebih "Jos" untuk Pria daripada Wanita

Kompas.com - 05/06/2009, 16:09 WIB

KOMPAS.com - Anda pernah begitu mengantuk di kantor, tetapi setelah meminum secangkir kopi, Anda merasa tidak banyak terbantu? Sebaliknya, mengapa Si Dia bisa begadang semalam hanya karena menengguk kopi yang sama?

Menurut sebuah penelitian baru yang dilakukan oleh University of Barcelona, pria merasa lebih terjaga -dan lebih tangkas- daripada wanita setelah mengonsumsi minuman berkafein. Dalam studi tersebut, responden diminta menyesap secangkir espresso (mengandung 100 mg kafein), lalu menilai apa yang mereka rasakan 10, 20, dan 30 menit sesudahnya. Apakah mereka merasa lebih segar? Pria dilaporkan merasa tidak begitu mengantuk hanya setelah 10 menit, dan tetap merasakan hal tersebut selama setengah jam berikutnya. Sedangkan wanita juga merasakan "tendangan" espresso ini, namun menilainya lebih lemah daripada yang dirasakan pria.

Namun anehnya, saat stimulasi kafein dikurangi, ternyata wanita justru dapat merasakannya. Dengan menggunakan metode yang sama, para peneliti mencari efek dari kopi tanpa kafein (hanya mengandung 5 mg kafein). Dalam waktu 10 menit setelah mengonsumsi kopi non kafein, wanita dilaporkan merasa lebih segar. Sedangkan para pria hanya merasakan pengaruh yang tidak begitu besar. "Wanita tampaknya cenderung lebih dapat mengalami respons placebo (kemampuan menyembuhkan atau merasa lebih baik yang berasal dari pikiran) terhadap kafein," ujar Ana Adan, Ph.D., penulis dan kepala peneliti Psychopharmacology and Drug Dependence Group di University of Barcelona.

Penelitian ini diadakan karena, menurut Adan, berbagai studi yang pernah dilakukan hanya mendemonstrasikan efek stimulan pada kafein, dan belum ada yang mencari efeknya dalam konteks gender konsumennya. Penelitian mengenai efek kafein cenderung dilakukan menggunakan persiapan, dimana kadar kafein jauh lebih tinggi daripada asupan secara normal. Menurut Adan, hal baru dari studi ini terletak pada perbedaan yang terlihat dalam pengaruhnya terhadap pria dan wanita, berdasarkan jumlah kafein yang dikonsumsi orang dalam 99 persen kasus.

Untuk mengukur efek kafein tersebut, peneliti menggunakan sampel sebanyak 668 mahasiswa (238 pria dan 450 wanita) dengan kisaran usia 22 tahun. Pengukuran dilakukan sebelum dan sesudah kafein dicerna (10, 20, dan 30 menit), dan dilakukan tengah hari (pukul 11.00 hingga 13.00) dan sore hari (pukul 16.00 - 18.00). Hal bertujuan untuk mengontrol berbagai kemungkinan yang berbeda, yang mungkin disebabkan oleh waktu.

Dari hasil penelitian tersebut, Adan juga menyimpulkan, jika kita tidak terbiasa minum kopi berkafein, maka kopi decaf pun akan memberikan manfaat. Hal ini masih harus dievaluasi, apakah pengaruhnya hanya bersifat subyektif, dan apakah ada pengaruh terhadap penampilan.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau