JAKARTA, KOMPAS.com — Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon mengomentari hasil survei Lembaga Survei Indonesia (LSI) yang diakui dibiayai oleh Fox Indonesia, konsultan kampanye pasangan SBY-Boediono. Dikatakan Fadli, setiap pasangan pasti menggunakan lembaga survei untuk mengukur tingkat elektabilitas dan persepsi publik. Namun, survei "pesanan" menurutnya, tak layak dipublikasikan.
"Survei pesanan seperti itu akan elegan kalau untuk intern saja, tidak dipublikasikan," kata Fadli di sela-sela ziarah Megawati ke makam Bung Hatta, Sabtu (6/6) di Jakarta.
Jika survei "pesanan" dipublikasikan, menurutnya, tak ubah sebagai alat kampanye terselubung. "Survei itu bisa menciptakan band wagon effect dan menimbulkan efek psikologi. "Seharusnya dari awal bilang bahwa kami surveyor yang dibiayai salah satu kandidat, itu baru fair," kata Sekretaris Umum Tim Kampanye Nasional Mega-Prabowo ini.
Secara akademis, survei yang dibiayai oleh salah satu kandidat, ia mengatakan, memiliki problem. Survei yang dirilis lembaga survei seharusnya independen.
"Kalau sudah dibayari salah satu kandidat, tidak bisa disebut independen. Bisa saja ada conflict of interest, memilih responden di basis pemesan sehingga angkanya tinggi. Tapi secara keseluruhan jadi sangat meragukan," kata Fadli.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang