JAKARTA, KOMPAS.com — Euforia bullish (penguatan) diperkirakan masih akan berlanjut pada awal pekan ini. Namun, investor harus memperhatikan kemungkinan aksi ambil untung (profit taking), setelah pekan lalu Indeks Harga Saham Gabungan menguat signifikan.
"Kami merekomendasikan investor untuk tetap berhati-hati akan kemungkinan terjadinya profit taking," sebut analis riset Panin Sekuritas Purwoko Sartono.
Dikatakannya, harga minyak terlihat sudah mendekati level resistance 70-75 dollar AS per barrel, di mana penurunan harga minyak dan komoditas akan menyeret turun harga saham pertambangan dan perkebunan.
Selain itu, harga beberapa saham perbankan terlihat sudah kembali ke level sebelum krisis (pra krisis). Beberapa data makroekonomi dari AS seperti tingkat pengangguran dan penjualan ritel dapat menjadi fokus investor pekan depan. "Kami perkirakan pekan ini indeks akan cenderung bergerak mixed dengan kisaran support-resistance 1.992-2.110," sebutnya.
Sepanjang pekan lalu, IHSG menguat 162 poin (8,46 persen) dari pembukaan di 1.916,83 hingga penutupan 2.078,93. Saham bluechip sektor pertambangan, perbankan menjadi penggerak indeks sepanjang pekan lalu.
Disebutkan dia, sinyal membaiknya data makro ekonomi menimbulkan optimisme perekonomian global mulai pulih dari krisis terburuk sejak great depression pada 1930. Data perumahan AS, angka pertumbuhan GPD Australia 2Q-09 yang di atas ekspektasi, serta kebangkrutan GM pada 1 Juni 2009 lalu nilai sebagai titik terendah pada krisis ini, sekaligus menimbulkan harapan bahwa dunia perekonomian tengah berada dalam fase recovery.
"Pasar pun berspekulasi, ditandai dengan menguatnya harga komoditas seperti crude oil, nikel, timah, batu bara, seiring dengan ekspektasi demand akan meningkat jika perekonomian pulih," sebutnya.
Di dalam negeri, angka inflasi yang rendah (0,04 persen mom) dinilai pasar masih terkendali. Kemudian langkah BI yang kembali menurunkan BI Rate 25 basis poin menjadi 7,0 persen juga direspons positif oleh pasar.
Sementara nilai tukar rupiah terhadap dollar terus menguat dari level Rp 10.300 per dollar AS pada Senin menjadi Rp 9.935 per dollar AS pada hari Jumat. "Penguatan nilai tukar rupiah di samping memang ada faktor melemahnya dollar terhadap mata uang lain, juga mengindikasikan mulai masuknya investor asing sebagai respons dari kuatnya fundamental ekonomi Indonesia di tengah krisis," tambah dia.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang