Obat Baru Kanker dan Gratis bagi Peserta Askes

Kompas.com - 08/06/2009, 11:44 WIB

Kanker tak perlu ditakuti. Karena penyakit ini tidak selalu berdampak fatal. Namun dapat disembuhkan melalui pengobatan dan terapi yang tepat. Bagi peserta Asuransi Kesehatan (Askes), obat dan terapi kanker yang biayanya mencapai ratusan juta itu kini tersedia gratis.

Prof Sasanto Wibisono (71), seorang pakar psikiatri dari RSCM, Jakarta, dan juga pengajar di FKUI, pada pemeriksaan patologi diketahui menderita kanker kelenjar getah bening (limfoma).

”Berita dari dokter bahwa saya menderita kanker getah bening itu sangat berat dan begitu menakutkan buat keluarga saya,” ujar Prof Sasanto pada acara Roche Onkologi di Sanur, Bali, awal Mei 2009. Namun, bagi Sasanto sendiri yang sering mendampingi dan memberi masukan bagi penderita kanker, vonis itu diterimanya dengan tenang.

”Pikiran saya hanya kepada keluarga. Dan saya pun memasrahkan seluruh pengobatan, apa obat yang akan diberikan kepada saya, saya serahkan kepada dokter yang merawat saya. Dokter lebih tahu apa yang terbaik untuk saya,” kata Sasanto.

Ia disarankan dokter untuk menjalani kemoterapi beberapa jenis obat inovatif sebanyak delapan kali. Kebanyakan pasien yang menjalani kemoterapi merasakan mual yang luar biasa. Namun dengan obat inovatif, hal itu tidak dirasakan Sasanto.

Nafsu makan dan berat badannya bertambah hingga kemo yang kelima. Rambutnya rontok dan sel darah putih (leukosit) turun hingga 600 dari normalnya 4.000.

Berkat penggunaan obat kanker yang inovatif, ada peningkatan harapan hidup dua tahun pada 44 pasien kanker di Amerika Serikat dan sekitar lima tahun pada 19 persen pasien di Eropa. Adapun antara 1995-2003 di 20 negara lainnya kematian akibat kanker sekitar 30 persen karena penggunaan obat terbaru.

”Obat itu selain memperpanjang usia harapan hidup, efek sampingnya juga minimal, antara lain tergantung juga pada kecukupan nutrisi, faktor obesitas, dan aktivitas fisik,” kata Prof Mark Hertzberg, pakar Hematologi dari Westmead Hospital Universitas Sydney, Australia.

Layanan Askes

Terapi dengan obat inovatif sayangnya memakan dana ratusan juta. Namun sejak pertengahan tahun 2008, PT Askes menyediakan akses bagi peserta Askes penderita kanker yang mengonsumsi obat inovatif atau menjalani terapi. PT Askes akan terus memperluas akses terhadap terapi inovatif baik untuk kanker maupun penyakit berat lainnya, kata Direktur Utama PT Askes Gede Subawa.

Dr Ait-Allah, Presiden Direktur Roche Indonesia, menyatakan, sejak 2007 melalui Roche Patient Assistance Program (RPAP) pihaknya menyumbangkan obat inovatif senilai Rp 2,5 miliar untuk pasien tidak mampu dan kerja sama dengan PT Askes sekitar Rp 1,5 miliar.

Sayangnya, obat baru itu hanya untuk peserta Askes. Peserta Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) masih belum bisa mengakses obat kanker tersebut melalui Jamkesmas.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau