Djoko: Ganda Putra dan Campuran Diharapkan Raih Gelar

Kompas.com - 09/06/2009, 22:40 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Ketua Umum PB PBSI Jenderal TNI Djoko Santoso berharap para pebulu tangkis nasional dapat mempertahankan dua gelar yang diraih tahun lalu pada turnamen Super Series Indonesia Terbuka. Waktu itu, gelar tunggal putra dan ganda putri berhasil disabet.

Tetapi kali ini, harapan tampaknya ditumpu pada nomor ganda putra dan ganda campuran. Pasalnya, di dua nomor ini Indonesia berada di peringkat satu dunia.

"Tentu kita berharap atlet kita menang. Kita punya ganda putra peringkat satu dunia, itu yang diharapkan meraih gelar, termasuk juga ganda campuran," ujar Djoko dalam keterangan pers di Jakarta, Selasa (9/6).

Memang, Markis Kido/Hendra Setiawan serta Nova Widianto/Liliyana Natsir merupakan ganda nomor satu dunia. Tak salah jika Indonesia memasang target di dua sektor ini untuk menjadi juara di hadapan publik sendiri.

Meskipun demikian, sektor lain diharapkan bisa membuat kejutan.

Tunggal putra misalnya. Meskipun tanpa pelatih Hendrawan yang mengundurkan diri dan belum ada penggantinya hingga saat ini, Kepala Subbidang Pelatnas PB PBSI Christian Hadinata mengatakan peluang itu masih ada.

Ia juga berharap, kepergian Hendrawan untuk melatih di Malaysia dapat memacu asisten pelatih tunggal putra Davis Efraim membuktikan kemampuannya menangani sektor tunggal putra.

Keseriusan menangani tunggal putra, tambah Ketua Bidang Pembinaan Prestasi PB PBSI Lius Pongoh, ditunjukkan Davis yang meninggalkan program latihan bagi pemain yang tidak ambil bagian di Singapura Terbuka pekan ini. Sedangkan dia mendampingi Sony dan Simon Santoso berlaga di Singapura Super Series.

Meski demikian, perebutan gelar pada turnamen kali ini diperkirakan berlangsung ketat karena negara-negara kuat seperti China, Korea, Malaysia dan Denmark turun dengan kekuatan penuh.

Pemain kualifikasi pasang target ke babak utama

Beberapa pemain Indonesia ada yang harus melewati babak kualifikas Djarum Indonesia Open Super Series 2009 yang digelar 16-21 Juni di Istora Senayan Jakarta. Target pertama yang dicanangkan adalah lolos dari babak kualifikasi.

"Kami akan berusaha menampilkan yang terbaik dan berjuang semaksimal mungkin agar lolos babak kualifikasi," ujar pemain spesialis ganda Tantowi Ahmad.

Tantowi yang berpasangan dengan Richi Puspita Dili pada ganda campuran, berharap dapat sampai ke babak perempat final pada debutnya di turnamen ini. Semangat itu terpatri setelah mereka berhasil mencapai semifinal Grand Prix India Terbuka.

Pemain tunggal putri Linda Weni Fanetri yang juga tampil untuk pertamakalinya dalam turnamen Super Series di Tanah Air itu berharap, bisa melenggang mulus ke babak utama. Tetapi dia bakal menghadapi lawan berat di babak kedua, karena bertemu pemain Korea Kim Moon Hi atau Zhang Beiwen dari Singapura.

Linda yang sempat menurun kondisi fisiknya akibat terkena flu pekan lalu, mengatakan persiapannya pada pekan terakhir menjelang turnamen hanya menjaga kondisi agak tidak menurun.

Sejak hari pertama turnamen, panitia penyelenggara telah menyediakan tiket bagi masyarakat yang ingin menyaksikan turnamen kelas dunia tersebut, dengan rincian Rp 10.000 (kelas 1) dan Rp 20.000 (kelas2) pada tiga hari pertama (16-18 Juni). Setelah itu, Rp 20.000 dan Rp 50.000 pada babak perempat final serta Rp 50.000 dan Rp 100.000 untuk semifinal dan final.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau