Anugerah doktor kemanusiaan

Mahathir, Galakkan Perdamaian untuk Penyelamatan Kemanusiaan

Kompas.com - 10/06/2009, 04:35 WIB

Tidak zamannya lagi menjadikan perang sebagai cara untuk menyelesaikan konflik. Ke depan, tidak ada yang lebih penting selain penghapusan perang. Masalah bisa diselesaikan dengan jalan damai.

Demikian antara lain inti pemikiran Yang Amat Bahagia Dr Mahathir bin Mohamad, mantan Perdana Menteri Malaysia, yang pernah berkuasa selama 22 tahun, pada pidato penganugerahan gelar doktor kehormatan bidang kemanusiaan, Senin (8/6) di Universitas Teknologi Kreatif Limkokwing, Cyberjaya, Selangor, Malaysia.

Universitas Teknologi Kreatif Limkokwing menganugerahkan gelar doktor kehormatan kepada Mahathir karena dia dinilai berupaya keras memerangi kejahatan perang dan menggalakkan perdamaian dunia.

”Yang Amat Bahagia Dr Mahathir bin Mohamad tidak pernah berhenti mencegah pembuatan nuklir dan terus-menerus melakukan lawatan dunia untuk mempromosikan perdamaian. Beliau terus-menerus menyelenggarakan kegiatan menggelorakan perdamaian dan mendesak agar dibuat undang-undang kejahatan perang,” kata presiden dan penggagas Universitas Teknologi Kreatif Limkokwing, Prof (Emeritus) Lim Kok Wing.

Setidaknya ada tujuh alasan lain dikemukakan Lim Kok Wing, mengapa gelar doktor kehormatan layak diberikan kepada Mahathir.

Gelar yang sama sebelumnya diberikan kepada mantan Presiden Afrika Selatan Nelson Mandela, Juni 2008, dan mantan Presiden Botswana Festus G Moage, Februari 2008. Perdana menteri Malaysia sekarang, Datuk Seri Najib Tun Razak, saat menjabat Wakil PM dianugerahi doktor kehormatan bidang transformasi sosial, April 2008.

Senjata nuklir

Mahathir menjelaskan, kemajuan teknologi perang yang dikembangkan sejumlah negara membuat kita tidak nyaman dan telah menyebabkan bulu kuduk merinding.

”Amerika memiliki 10.000 peluru kendali nuklir, yang pasti cukup untuk menyapu seluruh ras manusia dan membuat planet ini sama sekali tak bisa dihuni. Korea Utara dan Iran sedang mengembangkan senjata nuklir dan sangat mengkhawatirkan jika uji coba senjata nuklir mereka berhasil,” paparnya.

Sekarang Amerika, lanjut Mahathir, sedang mengembangkan senjata nuklir dengan presisi tinggi, yang akan membunuh orang yang dipilih. Kemudian ada bom nuklir khusus yang dirancang untuk menembus bumi dengan kedalaman tertentu sehingga orang yang bersembunyi, walaupun di dalam bungker yang dalam, tak akan selamat.

Kemampuan pemusnahan ras manusia adalah kenyataan dan telah ada di genggaman beberapa negara. ”Ini masa depan yang menakutkan bagi manusia di dunia,” kata Mahathir, yang kini berusia 84 tahun dan masih tegar serta rajin menulis di blog.

Mahathir berharap cara perang untuk menyelesaikan konflik agar dihentikan karena peperangan menyebabkan negara-negara miskin yang merasa terancam memperuntukkan sebagian besar pendapatan negaranya untuk membeli senjata.

”Padahal, kalau dana itu digunakan untuk memberantas kemiskinan, betapa sangat berartinya. Mari ciptakan perdamaian,” tambahnya. (YURNALDI)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau