Suramadu: Jembatan Versus Jasa Feri

Kompas.com - 10/06/2009, 09:01 WIB

Haryo Damardono

KOMPAS.com - ”F**k Bridges, We Want Ferries!”, judul artikel di situs majalah Renegade itu sangat ”menyengat”, di tengah euforia peresmian Jembatan Suramadu, Rabu (10/6), oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Sudah tepatkah keputusan membangun jembatan, khususnya yang berbentang panjang?

Artikel itu berisi ”pertarungan” jembatan dan feri di Amerika. Dikecam, kebodohan pengendara yang memacetkan jembatan. Kota yang ”terbagi” oleh sungai lebar memang sering hanya ada satu hingga dua jembatan sehingga arus kendaraan ”menyempit” di jembatan.

Alhasil, di banyak kota dibangun lagi jembatan. Tak membangun alternatif penyeberangan atau zona lain untuk menekan pergerakan orang.

Contohnya di Pontianak, tahun 2007 diresmikan Jembatan Kapuas II untuk ”melengangkan” Jembatan Kapuas I. Palembang, walau punya Jembatan Ampera dan Musi II, merencanakan Jembatan Musi III.

Sementara itu, Pemkot Samarinda melobi Departemen Pekerjaan Umum untuk membangun jembatan ketiga, Mahkota II.

Sentimentil

Tepatkah pembangunan jembatan itu? Teringat film Intersection (1994). Saat Vincent Eastman (Richard Gere) dan Olivia (Lolita D) naik feri di Vancouver, Kanada, ke tempat kerja. Ada kesan sentimentil di sana.

Kesan itu diangkat pemuja feri di internet, ”pagi selalu indah di feri. Warga ngobrol saat di feri. Sore hari, terlihat matahari terbenam. Sangat indah”.

Mustahil komuter menikmati sunset saat mengemudi di jembatan. Dan di atas feri, tulis komuter lain, ”sering ada live music. Rileks seusai kerja”.

Bagi pengayuh sepeda, feri juga bersahabat. Sepeda diangkut feri saat tiada jembatan. Atau, saat jembatan hanya boleh dilewati kendaraan bermotor.

”Kemacetan? Apa itu?” celoteh pencinta feri. Di mana pun, mereka cerdik dan lincah ”melompat” antartransportasi massal. Wajah kota diperamah dengan mengurangi emisi dan mempererat interaksi warga.

Keberpihakan

Tidak ada maksud menghakimi Jembatan Suramadu. Tapi membangun jembatan serupa? Nanti dulu....

Apalagi, sistem perferian sedang dibenahi. Andai PT Indonesia Ferry (ASDP) tuntas mereformasi pelabuhan, waktu berlayar dan sandar makin singkat. Maka sebenarnya tinggal sinergi berbagai moda. Katakanlah, di Pontianak, bangunlah bus rapid transport (BRT) di Pontianak Utara, disambung feri di Sungai Kapuas, disambung BRT di Pontianak Selatan. Transportasi massal akan menyusutkan pergerakan mobil dan motor di Jembatan Kapuas dan ”melengangkan” jalan di Pontianak.

Mana lebih baik, Rp 1,2 triliun untuk bangun Jembatan Musi III di Palembang atau transportasi massal? Apalagi, pertambahan jalan dan jembatan selalu kalah dengan pertumbuhan kendaraan.

Pemikiran moderat diajukan ahli transportasi Unika Soegijapranata, Djoko Setijowarno, ”Suramadu boleh ada, tapi baiknya juga jadi jembatan rel.”

Andai ada jalur kereta di Suramadu, tinggal ”ditarik” lagi rel dari Bangkalan ke Sumenep (176 km). Tak perlu pembebasan lahan rel sebab milik negara sejak dibangun Madoera Stoomtram Maatschappij, November 1896.

Dari ujung Jembatan Suramadu, nantinya KA disambung jaringan KA Daerah Operasi VIII-Surabaya. Tinggal naik kereta api ke Lamongan, Malang, Blitar, Banyuwangi, atau bahkan Jakarta. Ciamik tenan.

Di masa depan, perlu dikaji ulang tiap pembangunan jembatan. Prioritaskan wilayah yang tak ada penyeberangan. Optimalkan feri bila mungkin.

Bila terpaksa, boleh bangun jembatan, tapi dengan memfasilitasi transportasi massal sehingga masyarakat tak manja menggunakan kendaraan pribadi yang boros dan memacetkan.

Ada bisikan, ”Bali dan Lombok, dari dulu tiada jembatan, kok lebih maju?” Mungkin, bukan jembatan yang dibutuhkan Madura untuk sejahtera.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau