Bisnis Tipu-tipu Terowongan di Jalur Gaza

Kompas.com - 10/06/2009, 14:57 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Selama bertahun-tahun, jaringan penyelundupan bawah tanah dari Mesir ke Jalur Gaza sudah berjasa memasok warga Jalur Gaza mulai dari semen hingga ternak.

Kini, serangkaian penipuan besar telah menghancurkan mimpi warga yang sudah menyetor uang sebagai pemodal bisnis tersebut.

Salah satu korban penipuan adalah Jawad Tawfiq (52), aktor dan sutradara di Gaza. Tawfiq mengaku dibujuk keponakannya untuk patungan berinvestasi di bisnis terowongan penyelundupan dengan iming-iming akan untung besar. "Mereka ternyata pendusta," kata Tawfiq sengit kepada harian terbitan Inggris, Observer. "Mereka mengambil uangku lalu aku ditawarkan sebagian kecil saja dari apa yang telah mereka ambil," lanjut Tawriq.

Terowongan-terowongan itu awalnya adalah jalur penyelundupan yang sangat penting untuk kehidupan wilayah Gaza yang dibarikade Israel. Setelah beberapa lama, lahir skema bisnis terowongan yang digembar-gemborkan menghasilkan keuntungan hingga tiga kali lipat bagi para investornya.

Orang-orang yang menggembar-gemborkannya rata-rata punya kaitan dengan pengusaha di Gaza atau petinggi Hamas. Di sisi lain, terowongan-terowongan itu seharusnya sudah tidak ada. Serbuan Israel berakhir dengan syarat dari negara Yahudi itu bahwa jaringan terowongan itu ditutup.

Kantor perekonomian Hamas kini mendalami masalah tersebut. Menteri ekonomi Hamas, Ziad al-Zaza, mengatakan, penipuan itu sudah meraup sekitar 100 juta dollar AS dari para korbannya, tetapi kalangan lain menyebut angka sekitar 500 juta dollar AS.

Gaza sudah banyak mengalami masa brutal dan puncaknya adalah serbuan Israel pada akhir tahun lalu dan bisnis penipuan terowongan termasuk punya peran dalam menambah kemuraman masyarakat. Omar Shaban, seorang pengamat dari lembaga pemikir di Gaza, berkomentar: "Yang sangat menghancurkan Gaza adalah hilangnya tabungan dalam investasi itu. Bisnis palsu itu telah menjungkirbalikkan struktur sosial. Penipuan itu telah menghancurkan nilai-nilai yang dibutuhkan agar suatu negara bisa berfungsi. Bahkan, mereka telah membuat orang tidak lagi percaya pada nilai-nilai yang seharusnya ada."

Di belahan Mesir, terowongan tetap buka karena adanya praktik suap. Israel tahu betul soal terowongan tapi mereka membiarkan saja karena dengan begitu tekanan untuk membuka pintu-pintu Gaza jadi berkurang. Terowongan Gaza hingga kini menopang ekonomi wilayah itu. Semen, rokok, keju, sepeda anak-anak hingga suku cadang kendaraan  dan kawanan ternak pun disalurkan lewat terowongan itu.

Hilang

Salah satu insiden terbaru adalah para investor dengan koordinator Ihab al-Kurdi diberitahu bahwa duit mereka "hilang". Tidak ada penjelasan lebih lanjut untuk para pemodal yang malang itu. Yang menyakitkan, para pemodal itu pekan lalu ditawarkan menerima 16,5 persen dari uang yang sudah mereka setor tetapi dengan syarat tidak mengajukan tuntutan. Banyak di antaranya terpaksa menerima tawaran rahasia tersebut.

Seorang warga Gaza, yang minta cukup ditulis Ummi Mohammed, mengaku bangkrut setelah tergiur iming-iming investasi di terowongan. Dia menjual seluruh emas dan perhiasan yang merupakan jerih payahnya bekerja selama di luar Gaza. Ummi Mohammed juga meminjam dari calon menantunya lalu menyetor 17.000 dollar AS.

"Saya tadinya percaya," katanya. "Si perantara sepertinya orang jujur. Dia religius, ramah. Harta saya semuanya lenyap dan sekarang saya jatuh miskin. Kalau tidak ada tunjangan dari Otoritas Palestina, saya sudah jadi pengemis."

Cerita pilu Ummi Mohammed juga dialami banyak warga di belahan Gaza mulai dari Khan Younis hingga Beit Hanoun. Banyak orang menjual rumah, mobil, menggunakan mas kawin bahkan dari kerabat untuk berinvestasi di bisnis terowongan dan akhirnya dana mereka hilang.

Para pemodal kesal karena kecil kemungkinan modal mereka akan kembali. Selain itu, tidak ada penjelasan memadai tentang hilangnya dana mereka. Para korban menyebut dua nama perusahaan yang dijalankan oleh Wael Al-Rubi, selain yang dijalankan oleh Ihab al-Kurdi. Menteri Zaza sudah membenarkan nama-nama itu sedang dalam penyelidikan.

Nama-nama itu sebelumnya tidak dikenal, tetapi para calo mereka kebanyakan adalah dari keluarga saudagar terkenal. "Terowongan itu adalah hal terburuk yang pernah terjadi di Gaza," kata Tawfiq. "Terowongan itu sudah jadi racun. Gaza jadi penjara ekonomi cuma untuk coklat dan sepeda."

Sulit untuk mengurai habis skema tersebut, tetapi menteri Zaza mengatakan skema bisnis terowongan sejak awalnya adalah penipuan. Skema tersebut diperkenalkan sebelum serbuan Israel ke Gaza. Para investor dan operator terowongan yang diwawancarai Observer menjelaskan, ada jaringan tersamar yang melibatkan sejumlah pengusaha maupun petinggi Hamas. Semuanya mendapat bagian dalam skema bisnis itu.

Banyak korban mengemukakan mereka merekrut saudara atau teman dalam investasi yang ternyata mirip skema piramid itu. Skema itu langsung runtuh ketika pengelolanya ditangkap Hamas. Korban tertarik berinvestasi karena diberitahu ada orang lain yang segera untung besar dari menanam modal di bisnis tersebut.

Pada beberapa kasus, calon investor diming-imingi oleh perantara bahwa bisnis itu dipromosikan tokoh senior Hamas yaitu mantan menteri dalam negeri Said Siam. Tokoh tersebut tewas dalam serbuan Israel. Pemerintah Hamas membantah bahwa Siam pernah mendekati para pengusaha Gaza dan pemilik-pemilik terowongan dengan tawaran investasi skala besar.

Zaza mengaku bahwa beberapa orang yang terkait kasus tersebut menggunakan kedekatan mereka dengan tokoh Hamas. "Hamas tidak punya kaitan dengan skema tersebut. Itu cuma khayalan. Kurdi menyebut punya hubungan baik dengan orang-orang di pemerintahan, tapi yang mereka jual adalah bohongan," katanya.

Klan Deri, yang punya kaitan erat dengan sayap militer Hamas, konon rugi tiga juta dollar AS. Mereka diduga menculik Kurdi untuk minta uangnya kembali. Zaza mengatakan bahwa sebagian uang telah kembali setelah pihaknya menyita catatan-catatan termasuk lebih dari 3.000 panggilan telepon.

Pejabat

Observer menemukan bahwa sebagian dana skema bisnis itu ternyata disalurkan untuk amal atas nama pihak-pihak kunci bisnis itu. Sebagian lagi disetor ke pejabat sedangkan lainnya untuk kendaraan, rumah, tanah dan barang mewah. Di Gaza, satu mobil merek Daewoo yang sudah berumur 10 tahun harganya masih 12.000 dollar AS (lebih dari Rp 120 juta).
 
"Anda lihat orang menjadi jutawan dalam dua atau tiga bulan. Tapi apa artinya? Tidak ada yang transparan, berguna atau berharga. Orang menipu keluarga dan tetangga sendiri karena putus asa. Kenapa hal-hal ilegal seperti itu jadi dianggap wajar?" kata Omar Shaban, sang pengamat.

Cerita lebih pedih ternyata terjadi di bawah permukaan Gaza, tepatnya di terowongan itu. Observer yang mengunjungi terowongan untuk memasok minyak dan semen, mendapati bahwa dua pekan sebelumnya terowongan itu runtuh dan dua pemuda tewas.

Para pengelola terowongan biasanya adalah warga Rafah. Mereka mengaku membayar pajak 15-20 persen kepada Hamas. Mereka membantah punya kaitan dengan skema bisnis yang sudah membuat banyak warga Gaza kehilangan hartanya itu. Mereka juga mengatakan petugas Hamas yang disogok akan tutup mata meskipun tahu ada penyelundupan Tramadol, obat keras yang membuat ketagihan dan kini menjadi narkoba laris di Gaza.

Biaya pembangunan satu terowongan besar adalah 120.000 dollar AS (sekitar Rp 1,2 miliar), sedangkan terowongan biasa yang diameternya hanya cukup untuk merangkak sekitar 90.000 dollar AS. Selain berbagai pungutan, pemilik terowongan juga harus merogoh 3.000 dollar AS untuk izin pemerintah setempat. "Ada yang sedang mengerjakan terowongan besar yang bisa untuk menyelundupkan mobil. Terowongannya sudah 90 persen selesai tapi kemudian runtuh," kata seorang pengelola kepada wartawan Observer.

Ada juga kisah tentang "Pangeran-pangeran Terowongan" yaitu julukan untuk tiga anggota Hamas yang menjadi sangat kaya setelah terlibat dalam skema itu. "Orang yang mengelola terowongan hanyalah orang biasa. Tapi kemudian mereka melihat peluang bisnis lalu mereka jadi rakus," kata seorang pengelola.

Warga seperti Jawad Tawfiq tidak puas dengan penjelasan untuk mengganti kerugian mereka. "Jadi, jika tidak ada investasi riil di terowongan, ke mana uang?" tanya Tawfiq marah. "Di mana 84 persen lainnya yang hilang? Mustahil begitu saja lenyap."

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau