KUPANG, KOMPAS.Com -- Rekahan tanah longsor di Desa Tolnaku, Kecamatan Fatuleu, Kabupaten Kupang terus melebar setiap hari. Sejak Jumat (5/6) hingga Rabu (10/6), rekahan tanah longsor bertambah lebar antara tiga meter sampai lima meter.
Pantauan Pos Kupang di lokasi tanah longsor, Rabu (10/6), warga di desa itu mengaku hampir setiap hari memantau perkembangan tanah longsor. Mereka memasang patok dari kayu dan bambu untuk menandai titik longsor terakhir.
Patok lain dipasang berjarak dua meter sampai tiga meter, kemudian pada hari berikutnya mereka kembali memantau dan ternyata rekahan tanah longsor bertambah lebar. Kondisi ini ditandai tanah longsor sudah mencapai patok yang dipasang dua meter sampai tiga meter dari titik tanah longsor terakhir atau sebelumnya.
Warga menduga tanah longsor yang terus melebar itu berlangsung secara sporadis dan tidak stabil dalam artian dalam satu sampai dua hari longsorannya bervariasi antara 0,5 meter hingga satu meter.
Rekahan tanah longsor yang terus melebar ini berada di sekitar permukiman warga sebelumnya dengan kedalaman dua meter sampai lima meter. Salah satu rumah milik Gabriel Kase, kini terancam bila rekahan tanah longsor terus melebar ke arah timur. Tanah longsor yang melewati rumah ini hanya berupa belahan tanah, tapi tidak merobohkan rumah itu. Meski begitu, warga takut dan pindah ke lokasi pemukiman baru karena longsoran saat ini mulai bergerak mendekati rumah mereka.
Rekahan tanah longsor yang mulai melebar ini secara perlahan, namun pasti dengan gejala awal pecah-pecah tidak beraturan kemudian runtuh. Sebanyak 32 kepala keluarga (KK) korban bencana alam ini sudah dipindahkan ke Fatukoto sekitar satu atau dua kilometer dari lokasi tanah longsor.
Beberapa warga korban bencana tanah longsor yang ditemui di pemukiman Fatukoto, mengaku adanya pelebaran rekahan tanah longsor sekitar tiga meter sampai lima meter. Mereka saat ini konsentrasi membuat rumah darurat di lokasi pemukiman baru. "Hampir setiap hari tanah yang jatuh atau runtuh itu selalu bertambah. Dan, penambahan itu kita selalu pantau dengan tanda patok saja sehingga kami tahu ada penambahan," kata Imel Pantola, salah satu korban bencana.
Dia mengatakan, yang selalu memasang patok dan mengamati perkembangan tanah longsor adalah Fredik Mau. Dan, setiap saat memang ada penambahan tanah yang runtuh meski tidak ada hujan.
Pantola mengaku warga setempat belum tahu apakah tanah longsor karena gejala alam ataukah ada gempa bumi sehingga terjadi pergeseran tanah. "Sebelumnya kami masih ragu dan tidak percaya, tanah longsor selalu terjadi pukul 06.00 pagi dan sore, serta pukul 12.00 atau pukul 00.00 Wita. Namun, dengan kami tanda pakai patok ternyata benar, karena itu pada jam-jam tersebut kami selalu waspada," ujarnya.
Riky Mau, warga lainnya mengatakan, pelebaran tanah longsor tidak tentu harinya. Bisa berselang satu atau dua hari, dan ada juga setiap hari dengan waktu yang tetap, yakni pukul 06.00 pagi dan jam enam sore (pukul 18.00 Wita), serta pukul 12.00 siang dan jam 12 malam (pukul 24.00 Wita). Menyikpai kondisi ini, lanjutnya, mereka selalu waspada dan membantu membangun rumah darurat.
Sebelumnya diberitakan, rekahan yang terjadi di Desa Tolnaku, Kecamatan Fatuleu, Kabupaten Kupang mencapai sekitar 12 kilometer. Akibatnya sebanyak 117 jiwa dari 32 KK dipindahkan ke pemukiman di Fatukoto. (yel)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang