JAKARTA, KOMPAS.com — Selama ini, isu neoliberal kerap menjadi materi black campaign di tengah kondisi politik yang hangat menjelang pemilu presiden mendatang, terutama terhadap pasangan capres dan cawapres SBY dan Boediono.
Namun, Direktur Riset Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Arman Salam menyatakan bahwa isu neoliberal bukanlah isu yang berpengaruh besar terhadap pencitraan pasangan capres dan cawapres SBY-Boediono dalam pemilu presiden mendatang.
Dalam survei terbaru yang dilakukan LSI kepada 4.000 responden di 33 provinsi, Arman mengatakan, pihaknya mendapatkan bahwa hanya 40 persen dari total responden yang mengenal dan mengetahui makna ekonomi neoliberalisme.
Menariknya, ungkap Arman, sekitar 60 persen responden yang mengenal dan mengetahui ekonomi neoliberalisme justru tetap mendukung pasangan SBY-Boediono. "Jadi, isu neolib kurang seksi utk menggoyang pasangan SBY-Boediono," tutur Arman di sela-sela keterangan pers LSI di Pisa Cafe Mahakam Jakarta, Kamis (11/6).
Oleh karena itu, menurut Arman, isu ekonomi neoliberalisme tidak menjadi salah satu subtansi blunder yang mungkin dapat dilontarkan pasangan calon lain untuk melemahkan potensi pasangan dengan nomor urut dua ini untuk menang dalam satu putaran. "Blunder-blunder ini, menurut saya yang normatif saja, misalnya kasus korupsi, perempuan, yang sifatnya sosial kemasyarakatan, itu bisa mempengaruhi cepatnya turun naik angka dukungan (SBY-Boediono)," ujar Arman.
Dari hasil survei ini, LSI memang memprediksikan bahwa pasangan SBY-Boediono bisa menang dalam satu putaran jika tak ada blunder yang besar dari pihak SBY-Boediono, tak ada program yang sangat luar biasa dari pasangan calon lain serta tak ada peristiwa yang sangat luar biasa sepanjang sisa waktu menjelang pilpres.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang