Isu Neoliberal Tak "Seksi" untuk Goyang SBY-Boediono

Kompas.com - 11/06/2009, 14:23 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Selama ini, isu neoliberal kerap menjadi materi black campaign di tengah kondisi politik yang hangat menjelang pemilu presiden mendatang, terutama terhadap pasangan capres dan cawapres SBY dan Boediono.

Namun, Direktur Riset Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Arman Salam menyatakan bahwa isu neoliberal bukanlah isu yang berpengaruh besar terhadap pencitraan pasangan capres dan cawapres SBY-Boediono dalam pemilu presiden mendatang.

Dalam survei terbaru yang dilakukan LSI kepada 4.000 responden di 33 provinsi, Arman mengatakan, pihaknya mendapatkan bahwa hanya 40 persen dari total responden yang mengenal dan mengetahui makna ekonomi neoliberalisme.

Menariknya, ungkap Arman, sekitar 60 persen responden yang mengenal dan mengetahui ekonomi neoliberalisme justru tetap mendukung pasangan SBY-Boediono. "Jadi, isu neolib kurang seksi utk menggoyang pasangan SBY-Boediono," tutur Arman di sela-sela keterangan pers LSI di Pisa Cafe Mahakam Jakarta, Kamis (11/6).

Oleh karena itu, menurut Arman, isu ekonomi neoliberalisme tidak menjadi salah satu subtansi blunder yang mungkin dapat dilontarkan pasangan calon lain untuk melemahkan potensi pasangan dengan nomor urut dua ini untuk menang dalam satu putaran. "Blunder-blunder ini, menurut saya yang normatif saja, misalnya kasus korupsi, perempuan, yang sifatnya sosial kemasyarakatan, itu bisa mempengaruhi cepatnya turun naik angka dukungan (SBY-Boediono)," ujar Arman.

Dari hasil survei ini, LSI memang memprediksikan bahwa pasangan SBY-Boediono bisa menang dalam satu putaran jika tak ada blunder yang besar dari pihak SBY-Boediono, tak ada program yang sangat luar biasa dari pasangan calon lain serta tak ada peristiwa yang sangat luar biasa sepanjang sisa waktu menjelang pilpres.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau