Tanam Asuh untuk Selamatkan Hutan

Kompas.com - 11/06/2009, 18:33 WIB

SAMARINDA, KOMPAS.com - Skema tanam asuh diusulkan sebagai cara menyelamatkan Hutan Penelitian dan Pendidikan Universitas Mulawarman di Kalimantan Timur dari kerusakan lebih besar akibat pembalakan, perambahan, dan pertambangan batu bara.

Demikian mengemuka dalam seminar sehari Advokasi dan Sistem Insentif Penanaman Pohon di Hutan Penelitian dan Pendidikan Universitas Mulawarman/ Taman Hutan Raya Bukit Soeharto di Kampus Unmul, Samarinda, Kamis (11/6).

Kerusakan HPP Unmul sekitar 14.000 hektar dari 20.271 hektar luas kawasan yang berdasar hukum penunjukan Menteri Kehutanan pada 2004 itu. HPP Unmul ialah satu dari tiga kawasan hutan dengan tujuan khusus dalam Tahura Bukit Soeharto (61.850 hektar) di Kabupaten Kutai Kartanegara dan Kabupaten Penajam Paser Utara.  

Siapapun boleh menanam dan merawat sendiri atau cukup membiayai program dengan kami sebagai pelaksananya tetapi dengan jaminan pohon bertahan hidup di alam, kata Direktur Pusat Penelitian Hutan Tropis (PPHT) Unmul Chandradewana Boer sebagai pengelola HPP Unmul. Mitra program juga berhak atas sertifikat pengakuan, publikasi, dan bisa memantau secara rutin untuk memastikan pertumbuhan tanaman asuh.

PPHT menawarkan program untuk 10 bibit sampai 1.000 bibit pohon. Biaya menanam dan merawat selama empat tahun untuk 10 bibit Rp 2,5 juta atau Rp 250 ribu tiap batang. Untuk yang 1.000 bibit berbiaya Rp 40 juta atau Rp 40 ribu tiap batang . Yang terakhir lebih murah sebab efisiensi bisa diterapkan dalam pengangkutan, penanaman, dan perawatan dalam program berskala besar.

Dosen ekologi dan konservasi hayati Fakultas Kehutanan Unmul Sutedjo mengatakan, biaya mungkin dirasa cukup mahal tetapi rasional. Bibit yang dipilih berkarateristik tinggi, kekar, dan sehat yang memang tidak murah dan mudah didapat secara komersial. Pengalaman bertahun-tahun, agar suatu tanaman bisa bertahan hidup di alam bebas, perlu dirawat setidaknya empat tahun.  

Tanaman lokal yang dianjurkan ialah penghasil buah dan biji-bijian untuk sumber perbaikan habitat satwa liar sesuai fungsi utama HPP Unmul sebagai kawasan konservasi, kata Sutedjo. Beberapa di antaranya ialah jenis duku, durian, nangka, gaharu, atau tanaman keras yang sudah sulit didapat seperti ulin dan meranti.

Dana untuk penyelamatan juga bisa didapat lewat skema pengurangan emisi dari deforestasi dan degradasi atau REDD. K ampus bisa mengajukan sekitar 6.000 hektar kawasan tersisa yang masih cukup baik masuk dalam skema REDD.

 

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau