SAMARINDA, KOMPAS.com - Skema tanam asuh diusulkan sebagai cara menyelamatkan Hutan Penelitian dan Pendidikan Universitas Mulawarman di Kalimantan Timur dari kerusakan lebih besar akibat pembalakan, perambahan, dan pertambangan batu bara.
Demikian mengemuka dalam seminar sehari Advokasi dan Sistem Insentif Penanaman Pohon di Hutan Penelitian dan Pendidikan Universitas Mulawarman/ Taman Hutan Raya Bukit Soeharto di Kampus Unmul, Samarinda, Kamis (11/6).
Kerusakan HPP Unmul sekitar 14.000 hektar dari 20.271 hektar luas kawasan yang berdasar hukum penunjukan Menteri Kehutanan pada 2004 itu. HPP Unmul ialah satu dari tiga kawasan hutan dengan tujuan khusus dalam Tahura Bukit Soeharto (61.850 hektar) di Kabupaten Kutai Kartanegara dan Kabupaten Penajam Paser Utara.
Siapapun boleh menanam dan merawat sendiri atau cukup membiayai program dengan kami sebagai pelaksananya tetapi dengan jaminan pohon bertahan hidup di alam, kata Direktur Pusat Penelitian Hutan Tropis (PPHT) Unmul Chandradewana Boer sebagai pengelola HPP Unmul. Mitra program juga berhak atas sertifikat pengakuan, publikasi, dan bisa memantau secara rutin untuk memastikan pertumbuhan tanaman asuh.
PPHT menawarkan program untuk 10 bibit sampai 1.000 bibit pohon. Biaya menanam dan merawat selama empat tahun untuk 10 bibit Rp 2,5 juta atau Rp 250 ribu tiap batang. Untuk yang 1.000 bibit berbiaya Rp 40 juta atau Rp 40 ribu tiap batang . Yang terakhir lebih murah sebab efisiensi bisa diterapkan dalam pengangkutan, penanaman, dan perawatan dalam program berskala besar.
Dosen ekologi dan konservasi hayati Fakultas Kehutanan Unmul Sutedjo mengatakan, biaya mungkin dirasa cukup mahal tetapi rasional. Bibit yang dipilih berkarateristik tinggi, kekar, dan sehat yang memang tidak murah dan mudah didapat secara komersial. Pengalaman bertahun-tahun, agar suatu tanaman bisa bertahan hidup di alam bebas, perlu dirawat setidaknya empat tahun.
Tanaman lokal yang dianjurkan ialah penghasil buah dan biji-bijian untuk sumber perbaikan habitat satwa liar sesuai fungsi utama HPP Unmul sebagai kawasan konservasi, kata Sutedjo. Beberapa di antaranya ialah jenis duku, durian, nangka, gaharu, atau tanaman keras yang sudah sulit didapat seperti ulin dan meranti.
Dana untuk penyelamatan juga bisa didapat lewat skema pengurangan emisi dari deforestasi dan degradasi atau REDD. K ampus bisa mengajukan sekitar 6.000 hektar kawasan tersisa yang masih cukup baik masuk dalam skema REDD.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang