KOMPAS.com — Setelah sebelumnya terlihat tenang, tangis Sugiarti (58) pun akhirnya pecah, ketika dikabarkan jenazah putra bungsunya, Mayor (Pnb) Sobiq Fanani, akan segera dibawa ke rumahnya di Dusun Banjaran, Desa Tempurejo, Kecamatan Tempuran, Kabupaten Magelang. Sedu sedan yang ditahan akhirnya memuncak, berubah menjadi sebuah jerit histeris, dan tangis melengking yang sungguh memilukan hati.
Sembari dipapah oleh banyak kerabat, Sugiarti yang mulai limbung terus berkata-kata penuh penyesalan, menangisi kepergian Sobiq yang begitu cepat.
"Kenopo Sobiq ninggal ndisik... kenopo Sobiq ninggal ndisik... ," ujarnya terbata-bata.
Sobiq adalah pilot dari helikopter Puma SA-330 yang jatuh di landasan helikopter di jantung Markas Komando Lanud Atang Sendjaja, Jumat (13/6). Terakhir, almarhum menjabat sebagai Komandan Flight C Skuadron 8 Lanud Atang Sendjaja.
Upaya dari para kerabat untuk menenangkan pun sia-sia belaka. Setelah didudukkan, tangis Sungiarti pun tidak kunjung reda. Sebaliknya, teriakannya pun bertambah keras ketika jenazah dibawa masuk ke dalam rumah.
Kesedihan yang sama juga ditunjukkan oleh Tasya (9), putri sulung Sobiq. Sejak tiba dari Bogor ke rumah duka, dia pun terus menangis terisak-isak dalam gendongan salah satu kerabat.
"Karena sudah cukup besar, dia pun mengerti bahwa ayahnya sudah tidak akan kembali ke rumah dan tinggal bersamanya lagi," ujar seorang bapak yang menggendongnya.
Endah Tri Wahyuni (46), kakak sulung Sobiq, mengatakan, sebelum meninggal, dia dan anggota keluarga lainnya tidak mendapat firasat buruk ataupun menangkap tanda-tanda dari musibah ini.
"Terakhir kali kami bertemu 12 hari yang lalu, dia pun sempat berjanji akan kembali pulang ke Magelang saat Lebaran bulan September mendatang," ujarnya.
Tidak ada hal istimewa yang diperbincangkan saat dia bertemu dengan Sobiq ketika itu. Endah yang sehari-hari membuka toko perlengkapan militer di depan Akademi Militer Magelang mengatakan, dirinya hanya mengobrol membicarakan rekan-rekan, anggota militer, yang biasa memesan perlengkapan dari tokonya, serta karier dan pengalaman Sobiq selama bertugas.
"Namun, ketika itu, dia pun menangkap ada hal yang berbeda dari Sobiq. Hanya untuk mengobrol dengan saya saja, Sobiq mau menunggu saya selesai mengaji, sekitar dua jam lebih. Padahal, dia itu tipikal orang yang tidak sabaran dan tidak suka jika disuruh berlama-lama menunggu," ujarnya.
Selain pulang ke rumah, ketika itu Sobiq juga memenuhi undangan untuk bertugas sebagai instruktur penerbangan di Akademi Angkatan Udara (AAU) Yogyakarta. Dalam kesempatan tersebut, dia bersama keluarga, datang dengan mengendarai mobil pribadinya yang baru saja dibeli.
"Katanya, dia sengaja ingin ngereyen (mencoba) mobil barunya untuk menempuh perjalanan jauh Bogor-Magelang," ujarnya.
Endah mengungkapkan, adik bungsunya ini adalah pribadi yang ramah, namun juga cenderung pendiam. Biasanya, dia akan enggan banyak berbicara jika lawan bicaranya dirasa tidak klop atau nyambung saat diajak mengobrol.
Yudo Priyono (35), teman sepermainannya di masa kecil, mengatakan, Sobiq adalah pribadi yang cerdas dan serius menekuni sesuatu hal.
Ketika berbincang-bincang di telepon sebulan lalu, Yudo pun sempat memuji-muji Sobiq yang dalam usianya yang baru menginjak 35 tahun sudah menyandang gelar mayor. Dengan mempertimbangkan hal tersebut, baik Yudo maupun almarhum, sama-sama optimistis, pangkat letkol akan segera diraih Sobig sebelum usia 40 tahun. Namun, Yudo menyarankan agar almarhum terus berprestasi hingga meraih pangkat jenderal. Kata-kata itu pun disambut Sobiq dengan senang.
"Tentu saja, saya siap!" ujar Yudo menirukan kata-kata Sobiq ketika itu.
Namun, impian itu kini kandas sudah. Sobiq telah berpulang, meninggalkan kesedihan bagi keluarga, akibat kecelakaan helikopter Puma SA-330 yang dikemudikannya, Jumat (13/6).
Selamat jalan calon jenderal...
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang