Kerusuhan Meledak Setelah Ahmadinejad Menang

Kompas.com - 14/06/2009, 08:01 WIB

TEHERAN, KOMPAS.com — Mahmoud Ahmadinejad, Presiden Iran saat ini, pada Sabtu diumumkan sebagai pemenang dengan peraihan suara berlimpah dalam pemilihan presiden negeri itu sehingga menyulut kerusuhan oleh pendukung oposisi dan keluhan mengenai kecurangan dari pesaingnya yang kalah.

Ahmadinejad berpidato melalui televisi guna menyatakan pemilihan umum itu sebagai kemenangan besar, bahkan saat polisi dengan menggunakan tongkat bentrok dengan pemrotes di jalan-jalan ibu kota Iran, dalam kerusuhan yang tak pernah terjadi sebelumnya, sejak kerusuhan mahasiswa satu dasawarsa lalu.

Ribuan pendukung Mir Hossein Mousavi turun ke jalan-jalan kota Teheran dan berteriak "Turun Diktator", setelah hasil akhir memperlihatkan Ahmadinejad meraih hampir 63 persen suara.

Mousavi, mantan perdana menteri moderat yang pada pagi hari yang sama menyatakan telah terjadi kecurangan dan memperingatkan hasil penghitungan suara tersebut dapat mengarah kepada tirani, pada Sabtu malam mengeluarkan seruan agar rakyat tenang.

"Pelanggaran dalam pemilihan umum sangat serius dan anda berhak merasa sangat terluka," kata Mousavi kepada pendukungnya dalam pernyataan yang disiarkan di dalam jaringan kampanyenya.

"Tetapi saya dengan tegas menyeru anda agar tidak menjadi sasaran setiap orang atau kelompok untuk melukai. Jangan kehilangan ketenangan dan penahanan diri anda. Setiap orang mesti menarik garis antara diri mereka dan prilaku kasar," kata Mousavi.

Ahmadinejad dalam pidato televisi menolak tuduhan bahwa ada kecurangan dalam pemungutan suara. "Pemilihan umum sepenuhnya bebas dan ini adalah kemenangan besar," katanya.

Ia menyeru pendukungnya agar berkumpul pada Ahad, pukul 17.00 waktu setempat (19.30 WIB) di Lapangan Vali Asr di ibu kota Iran, tempat banyak bentrokan terjadi pada Sabtu. Bahkan saat ia berbicara, jaringan utama telepon genggam di Iran terputus, sementara laman jaringan sosial Facebook juga diblok.

Menteri Dalam Negeri Iran mengatakan, Mousavi telah memperoleh kurang dari 34 persen suara sehingga memberi Ahmadinejad satu masa jabatan empat tahun lagi, dalam hasil yang berbenturan dengan harapan Barat bagi perubahan dan menciptakan ajang bagi kemungkinan pergolakan kekuasaan di dalam negeri Iran.

Pemimpin spiritual Iran Ayatollah Ali Khamenei memuji kemenangan Ahmadinejad dan mendesak seluruh rakyat di negeri itu agar bersatu di belakang dia setelah kampanye pemilihan umum yang paling panas sejak Revolusi Israel pada 1979.

Hasil pemungutan suara tersebut tampaknya telah membangkitkan gerakan masyarakat madani bagi perubahan setelah 30 tahun kekuasaan ketat para tokoh agama di negara tempat 60 persen warganya dilahirkan setelah Revolusi Islam.

Masyarakat internasional juga telah sangat ingin menyaksikan pemilihan umum itu menjadi tanda pergeseran kebijakan setelah empat tahun retorika garis keras dari Ahmadinejad (52) dan percekcokan mengenai usaha nuklir Iran.

Mousavi memprotes apa yang ia gambarkan sebagai banyak kecurangan kasar dalam pemungutan suara yang dikatakan para pejabat menarik jumlah pemilih yang tak pernah terjadi sebelumnya, sebanyak 85 persen dari 46 juta pemilih.

"Tak seorang pun dapat membayangkan kecurangan semacam itu, sementara dunia menyaksikan, dari satu pemerintah yang memegang komitmen pada keadilan yang berlandaskan Syari’ah sebagai salah satu pilar dasarnya," kata Mousavi dalam surat yang disiarkan di dalam laman kampanyenya.

"Apa yang telah kita saksikan dari para pejabat (pemilihan umum) yang tidak jujur akan menghasilkan terguncangnya semua pilar sistem Republik Islam ini, dan dominasi kebohongan serta tirani," kata Mousavi dalam satu pernyataan terpisah.

Di pusat kota Teheran, pendukung Mousavi menyampaikan kekecewaan dan ketidakpercayaan mereka atas hasil tersebut, dan sebagian melemparkan batu ke arah polisi yang membalas dengan menggunakan tongkat.

Sabtu malam, polisi memperkokoh posisi mereka di lapangan dan jalan utama, terutama di daerah di sekitar kantor Mousavi, sementara puluhan orang terlihat diborgol dan ditahan di satu kompleks Kementerian Dalam Negeri.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau