Suramadu Membeludak, Tol Khusus Mobil Dilewati motor

Kompas.com - 14/06/2009, 20:15 WIB

SURABAYA, KOMPAS. com - Di hari kedua uji coba pengoperasian Tol Jembatan Suramadu, pengendara sepeda motor dan mobil yang melintas semakin membeludak. Akibat jalur khusus sepeda motor penuh sesak, banyak pengendara roda dua yang nekat menerobos jalur mobil. Praktis seluruh jalur di Tol Suramadu dipenuhi kendaraan berbagai macam jenis.

Sejak, Minggu (14/6) pagi hari sekitar pukul 09.00, antrean kendaran mulai menyemut di kaki Jembatan Suramadu sisi Surabaya. Pengendara sepeda motor yang melewati jalur paling kiri macet total dan memadati pintu tol Suramadu sisi Surabaya.

Sebagian besar pengendara bahkan nekat mengangkat motor mereka melewati pembatas jalan dan akhirnya masuk jalur tol khusus mobi l. Petugas PT Jasa Marga (Persero), Satpam, maupun petugas Kepolisian tak sanggup menghalangi para pengendara karena banyaknya jumlah pengendara yang ingin melintas ke Jembatan Suramadu.

Padatnya kendaraan yang melintas menyebabkan laju kendaraan di sepan jang jembatan sangat lambat, yaitu berkisar rata-rata lima kilometer per jam. Tepat di bagian bentang tengah jembatan, kendaraan roda dua maupun empat macet dan menumpuk parah karena sebagian pengendara menghentikan kendaraan untuk mengabadikan gambar ber sama keluarga.

Tampak beberapa motor mengalami kemacetan dan bocor ban tepat di tengah-tengah jembatan. Akibatnya, beberapa pengendara motor beserta keluarganya terpaksa berjalan kaki.

Petugas Patroli Jalan Raya (PJR) Tol Suramadu nampak menyusuri jembatan untuk menertibkan pengendara yang berhenti di tengah jembatan melalui pengeras suara. Sulitnya pengawasan juga menyebabkan beberapa pengendara sepeda angin bebas melintas di ruas jalan tol khusus mobil.

Tata tertib diabaikan

Sebagian besar pengendara roda dua yang melintas di Tol Jembatan Suramadu rata-rata membawa serta keluarga mereka, sehingga motor membawa beban lebih dari dua orang. Sebelumnya, Kepala Cabang PT Jasa Marga (Persero)Surabaya Agus Purnomo mengatakan, PT Jasa Marga (Persero) hanya mengizinkan sepeda motor dengan satu pengendara dan satu pembonceng. Karena itu, pengendara motor yang mengangkut lebih dari satu orang dilarang melintas.

Selain mengangkut lebih dari dua orang, sebagian pengendara motor juga tak memakai helm. Petugas Kepolisian yang berjaga-jaga tak kuasa melarang warga yang terlampau banyak.

Wisata dadakan

Baik di kaki Suramadu sisi Surabaya maupun Bangkalan kini mulai dipadati penjual kaki lima dan asongan. Banyaknya warga yang ingin menyaksikan Jembatan Suramadu dari dekat dimanfaatkan masyarakat sekitar untuk berjualan. Di jalan akses Suramadu sisi Surabaya nampak deretan penjual minuman beserta gerobak dorong mencapai panjang sekitar satu kilometer.

Keramaian pengendara kendaraan dan masyarakat yang ingin berwisata di Suramadu masih akan berlangsung dalam beberapa hari ke depan. Mengingat, masa uji coba Tol Jembatan Suramadu akan berlangsung hingga Rabu (17/6) mendatang. Selama masa uji coba, m asyarakat yang melintas di Suramadu tak dikenai biaya atau gratis.

Ujung-Kamal Sepi

Berbeda dengan Jalan Tol Suramadu, jasa penyeberangan feri di Ujung-Kamal mengalami penurunan jumlah penumpang secara drastis. Supervisor Operasional PT ASDP Indonsia Ferry Surabaya Budi Rahardja mengatakan, jumlah pengendara sepeda motor turun sekitar 60 persen hingga 70 persen, sedangkan mobil turun sekitar 50 persen hingga 60 persen.

"Satu kapal feri yang biasanya dimuati 13 mobil lebih kini cuman berisi empat mobil. Penurunan terparah pada kendaraan roda dua yang biasanya berebutan masuk ke feri, mulai hari ini sepi sekali," tuturnya.

Sebelum Suramadu beroperasi Setiap hari, penyeberangan feri Ujung-Kamal rata-rata dilalui 25.000 pejalan kaki, 5.500 motor, dan 1.400 mobil. Meski mengalami penurunan penumpang secara drastis, Pimpinan PT ASDP Indonesia Ferry Surabaya Prasetyo B Utomo mengungkapkan, sejumlah operator feri penyeberangan Ujung-Kamal tetap akan melayani penyeberangan dengan jumlah armada kapal utuh, yaitu 11 armada feri aktif dan tujuh kapal feri cadangan.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau