JAKARTA, KOMPAS.com — Status sebagai terpidana tidak membuat Theo F Toemion, mantan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), berhenti berkarya. Saat ini, ia masih menjalani masa hukuman di LP Klas I Cipinang setelah divonis bersalah atas kasus korusi, dan dijatuhi hukuman 6 tahun oleh Pengadilan Tipikor pada bulan Agustus 2006.
Di dalam hotel prodeo, ia selalu mengamati perkembangan krisis dunia dan kemudian dituangkan dalam sebuah buku berjudul Uang Malapetaka Dunia, Hancurnya Neokapitalisme Neoliberalisme. "Buku itu saya susun selama tiga bulan," ucapnya saat peluncuran di dalam LP Klas I Cipinang Jakarta, Senin (15/6).
Dalam buku setebal 254 halaman tersebut, ia menuangkan pemikirannya terhadap krisis dunia saat ini yang diakibatkan oleh para spekulan di pasar modal.
Theo mengatakan, di dalam buku tersebut, ia menyebutkan ada konspirasi luar biasa yang dilakukan oleh 25 orang paling bersalah sehingga menyebabkan terjadinya krisis dunia. "Ada Bush, Bill Clinton, Menteri Keuangan AS, Gubernur Bank Central, Pengawas Pasar Keuangan, pembuat kebijakan, pengusaha, pemilik bank, dan para spekulan. Mereka yang mencetuskan Washington Consensus," ungkapnya.
Dalam buku itu, Theo menceritakan sejarah dan ulah para spekulan yang telah muncul sejak tahun 1985 ketika uang sudah menjadi barang dagangan. Saat itu, negara G7, yaitu Amerika, Inggris, Perancis, Jerman, Italia, Kanada, dan Jepang sepakat untuk menghancurkan nilai mata uang dollar Amerika. "Waktu itu barang berbau Jepang merajai di negara-negara Barat," ucapnya.
Selain itu, Theo juga berbicara tentang dana talangan dan stimulus yang dilakukan Amerika, yang menurutnya ibarat melempar garam ke laut. Menurut Theo, hal itu tidak akan mengubah keadaan karena tanpa dilakukan pengaturan secara ketat terhadap perilaku para spekulan. "Pemberian dana talangan hanya akan melanggengkan praktek-praktek penipuan keuangan," tegasnya.
Dalam buku, ia juga memaparkan modus operandi yang dilakukan para spekulan, kredit perumahan Amerika yang awalnya disebut sebagai pemicu krisis global, harga minyak dunia, serta jalan keluar mengatasi krisis dunia.
Theo mengaku tidak mengalami kesulitan dalam penyusunan buku tersebut karena pihak lapas memberikan hak untuk mendapatkan informasi, menulis, kuliah, dan berobat. "Hak kita yang tidak ada hanya kebebasan," ucapnya.
Ia juga tidak menargetkan penjualan buku tersebut. "Sudah dibaca banyak orang saja, saya sudah senang," ungkapnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang