MUI: Kunjungan JK Tidak Terkait Pilpres

Kompas.com - 15/06/2009, 17:45 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengatakan, kunjungan Jusuf Kalla ke kantornya di kawasan Cikini, Senin (15/6), tidak terkait dengan dukungan organisasi keagamaan ini terhadap salah satu pasangan capres dan cawapres.

Menurut Ketua MUI KH Amidhan, pertemuan dengan JK awalnya hanya terkait dengan kapasitas JK sebagai wakil presiden. "Forum ini tidak terkait dengan dukung-mendukung. Tapi apa yang dipaparkan JK menarik perhatian para ulama, ustaz dan ustazah," tutur Amidhan dalam keterangan pers setelah pertemuan.

Sama seperti kunjungan JK sebelumnya ke Persekutuan Gereja-gereja Indonesia (PGI) dan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Amidhan mengatakan, kunjungan ini merupakan lanjutan rangkaian kunjungan tersebut. Kunjungan ini juga atas permintaan JK sendiri.

"Kami menunggu. Siapa saja yang datang akan kami terima. JK kan sudah ke PGI dan KWI, tentu ke majelis pemuka yang lain juga. Tidak ada permintaan (dari MUI). Kalau ada pasangan yang lain yang mau datang, tentu akan kami terima," tutur Amidhan.

Sementara itu, Sekretaris Umum MUI Ichwan Syam mengatakan, kapasitas MUI hanyalah memberi doa restu agar pilpres berjalan lancar dan terpilih pemimpin yang terbaik. "JK sudah datang ke PGI dan KWI, ini menunjukkan perhatian JK terhadap perkembangan keagamaan di Indonesia cukup besar," ujar Ichwan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau