Antisipasi Pengangguran, Suramadu Harus Segera Ditata

Kompas.com - 15/06/2009, 20:37 WIB

SURABAYA, KOMPAS.com - Penataan sentra usaha di sekitar kaki Jembatan Suramadu harus segera dilakukan. Potensi ekonomi dan wisata di sekitar Suramadu harus dimanfaatkan sebagai solusi untuk menekan gelombang pengangguran akibat sepinya arus penyeberangan Dermaga Ujung-Kamal.

Demikian dikatakan Ketua Komisi E DPRD Jatim Saleh Mukadar, Senin (15/6) di Surabaya. Dalam dua hingga tiga hari ini, arus penyeberangan Ujung-Kamal menjadi sangat sepi. Untuk mengantisipasi jumlah pengangguran yang besar, pemerintah harus segera mendata masyarakat yang berpotensi kehilangan pekerjaan dan menyediakan mereka mata pencaharian alternatif di sekitar Suramadu, tuturnya.

Menurut Saleh, sebagai satu-satun ya jembatan penghubung antara pulau, Suramadu potensial menjadi tempat wisata. Potensi inilah yang harus segera dimanfaatkan pemerintah, khususnya Badan Pengembangan Wilayah Surabaya-Madura (BPWS) untuk mengangkat kesejahteraan masyarakat sekitar.

Sebelumnya, Ketua Gabungan Perusahaan Angkutan Danau, Sungai, dan Penyeberangan (Gapasdap) Jatim Bambang Harjo mengatakan, sekitar 8.000 masyarakat, yang terdiri dari karyawan operator feri, pedagang, sopir taksi, hingga tukang ojek menggantungkan hidupnya di penyeberangan Ujung-Kamal. Praktis, berkurangnya volume arus penyeberangan mengancam sumber mata pencaharian mereka.

Ujunng-Kamal sepi

Sejak dibukanya ruas Tol Jembatan Suramadu mulai, Sabtu (13/6) lalu, arus penyeberangan feri Ujung-Kamal mendadak sepi. Pada, minggu (14/6), Supervisor Operasional PT ASDP Indonsia Ferry Surabaya Budi Rahardja mengatakan, jumlah pengendara sepeda motor turun sekitar 60 persen hingga 70 persen, sedangkan mobil turun sekitar 50 persen hingga 60 persen.

Sementara itu, pada Senin (15/6) arus penumpang penyeberangan Ujung-Kamal tetap turun meski tak separah sebelumnya. Pimpinan PT ASDP Indonesia Ferry Surabaya Prasetyo B Utomo manyatakan , jumlah pengendara roda dua turun sekitar 20 persen dan mobil turun sekitar 30 persen. Sedangkan jumlah pejalan kaki yang biasanya rata-rata 25.000 orang per hari kini turun menjadi sekitar 15.000 per hari atau turun 60 persen.

Sebelum Suramadu beroperasi, setiap hari penyeberangan feri Ujung-Kamal rata-rata dilalui 25.000 pejalan kaki, 5.500 motor, dan 1.400 mobil.

Langkah BPWS lambat

Hanya dalam tempo beberapa hari pascaperesmian Jembatan Suramadu, kaki Suramadu sisi Surabaya maupun Bangkalan kini mulai dipadati penjual kaki lima dan asongan. Di jalan akses sebelum masuk Tol Suramadu nampak deretan penjual minuman beserta gerobak dorong mencapai panjang sekitar satu kilometer.

Namun, hingga saat ini belum ada kejelasa n terkait langkah BPWS untuk menata Suramadu. Sebelumnya, Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto mengatakan, struktur BPWS dipastikan terbentuk sebelum Jembatan Suramadu diresmikan. Tapi hingga saat ini kejelasan struktur maupun langkah badan ini belum ada .

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Provinsi (Bappeprov) Jatim Hadi Prasetyo mengungkapkan, pemerintah melalui BPWS harus segera bertindak menata kawasan Suramadu, khususnya kedua sisi kaki Suramadu. Jika tak segera ditata, kawasan ini akan semakin amburadul. "Banyak bangunan bermunculan dan harga tanah akan melambung tinggi," ucapnya.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau