Habis Injak, Banting dan Tusuk Istri, Lalu Bunuh Diri

Kompas.com - 15/06/2009, 20:49 WIB

TEGAL, KOMPAS.com - Sumardi (55), warga Kelurahan Cabawan, Kecamatan Margadana, Kota Tegal ditemukan tewas di salah satu kamar rumahnya, Minggu (14/6) malam. Diduga, ia nekad bunuh diri, usai menganiaya isterinya, Dairah (48).

Kepala Polresta Tegal, Ajun Komisaris Besar Ahmad Husni melalui Kepala Satuan Reserse Kriminal, Ajun Komisaris Willer Napitupulu, Senin (15/6) mengatakan, peristiwa tersebut diduga disebabkan pertengkaran keluarga.

Dari hasil penyelidikan sementara, Sumardi menganiaya isterinya dengan cara membanting dan menginjak-injak. Setelah itu, ia mengambil pisau. Namun, pisau tersebut berhasil direbut dan dibuang oleh isterinya.

Selanjutnya, Dairah keluar rumah sambil berteriak minta tolong, sedangkan Sumardi masuk ke dalam kamar. Diduga, Sumardi kemudian nekad bunuh diri di dalam kamar tersebut.

Menurut Willer, polisi masih menunggu hasil visum dokter, untuk memastikan alat yang digunakan untuk bunuh diri. Barang bukti yang diamankan di antaranya dua buah pisau dan linggis. Untuk luka belum bisa memastikan, tersangka juga belum ada, ujarnya.

Hingga Senin siang, Dairah masih mendapatkan perawatan intensif di Rumah Sakit Umum Kardinah Kota Tegal. Muka dan matanya terlihat lebam. Ia juga masih terlihat lemah dan sulit dimintai keterangan.  

 

Persoalan Ekonomi

Peristiwa tersebut diduga dilatarbelakangi masalah ekonomi keluarga. Menurut salah seorang kerabat Sumardi, Tarisi (40), sejak tiga tahun lalu Sumardi menganggur. Pasangan Sumardi-Dairah dikarunia tujuh anak yang rata-rata hanya berpendidikan sekolah dasa r. Empat di antaranya sudah bekerja di Jakarta. Tiga anak lainnya masih kecil-kecil, berusia tiga, empat, dan 13 tahun.

Sebelumnya, pasangan tersebut bekerja sebagai pedagang warteg di Jakarta. Tiga tahun lalu balik ke Tegal, Sumar pernah berjualan bubur ayam, tetapi hanya sebentar, kurang dari satu bulan, ujarnya.

Untuk menopang hidup keluarga, Dairah berjualan ayam goreng dan pepes ikan dengan berkeliling dari kampung ke kampung. Suaminya membantu memotong ayam dan membereskan rumah. Biasanya jam 03.00 potong ayam, kemudian masak bersama dan mulai dijajakan sekit ar pukul 06.00 hingga 11.00, katanya.

Menurut Tarisi, sebelumnya pasangan tersebut beberapa kali terlibat pertengkaran. Sumardi pernah marah karena isterinya tidak pernah menyediakan lauk ayam, dan hanya tempe saja. Padahal, isterinya bekerja sebagai pedagang ayam goreng.

Keluarga juga menilai Sumardi mengalami depresi karena tidak memiliki pekerjaan. Dua hari sebelum kejadian, dia (Sumardi) minta salaman terus sama bu Daryem, tetangganya. Ia juga keramas dan minta rambutnya dicium orang lain, sambil ketawa-ketawa, tutur Tarisi.

Meskipun demikian, Tarisi tidak menduga akan terjadi peristiwa berdarah tersebut. Ia juga mengaku tidak mengetahui secara pasti kronologi kejadian. Hanya saja, pada Minggu petang, ia sempat mendengar kedua anak Sumardi yang masih kecil menangis.

 

 

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau