JAKARTA, KOMPAS.com - Sebagai pengawas pelaksanaan pemilu, Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu), dinilai belum menunjukkan "taringnya" terhadap kinerja penyelenggara pemilu, Komisi Pemilihan Umum (KPU).
Koordinator Komite Pemilih Indonesia (TePI), Jeirry Sumampouw mengatakan, Bawaslu seharusnya bisa bertindak lebih tegas atas ketidakberesan KPU dalam menyelenggarakan pemilu, baik legislatif maupun persiapan pemilihan presiden saat ini.
"Banyak hal yang tidak beres di KPU. Tapi Bawaslu sepertinya diam-diam saja. Bawaslu harus lebih tegas," ujar Jeirry, disela-sela Expert Meeting dengan pemantau pemilu dan media, di Hotel Sahid Jaya, Jakarta, Selasa ( 16/6 ).
Jeirry mencontohkan, belum dibuatnya pedoman pelaporan dana kampanye pilpres oleh KPU, seharusnya disikapi tegas oleh Bawaslu. Bahkan, jika peringatan Bawaslu tak diindahkan KPU, ia mengatakan, perlu memberikan shock therapy kepada KPU.
"Kalau sudah dikirim surat, tidak diindahkan, Bawaslu laporkan saja KPU ke polisi. Ini bisa menjadi terapi agar KPU bekerja maksimal," ujarnya.
Ia justru melihat, Bawaslu agak " melempem " dan putus asa sebelum melakukan tindakan pengawasan. "Mungkin Bawaslu hopeless , karena KPU bebal. Seharusnya, Bawaslu lebih berani mendorong KPU bekerja," kata Jeirry.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang