BANTUL, KOMPAS.com - Obyek-obyek wisata berikut potensi kulinernya di Indonesia kurang berkembang, meski sejatinya bagus dan bisa dijual. Kenyataan ini, diyakini akibat cara menjamu wisatawan yang kurang menarik, tak memperhatikan kenyamanan, keamanan, serta kebersihan.
Hal itu disampaikan Direktur Pemberdayaan Masyarakat Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Bakri, Selasa (16/6) saat Kampanye Sadar Wisata, di Pantai Depok, sentra kuliner ikan di Kabupaten Bantul.
Kegiatan itu, diisi antara lain dengan bersih pantai dan penanaman pohon. Selain itu, penyerahan bantuan tempat sampah (yang dibedakan dua, sampah kering dan basah), lomba warung wisata, kebersihan toilet, dan lomba kuliner.
"Seperti di Pantai Depok ini, misalnya. Beberapa waktu lalu saya dan Pak Bondan (Bondan Winarno, presenter acara kuliner di televisi), datang ke sini untuk makan ikan. Tapi ketika disajikan, ikannya berwarna hitam. Ya sudah tak menggugah selera," kata Bakri.
Selain itu, penyajian masakan pun kurang menarik, misalnya pramusajinya hanya berkaus singlet. Tak semua warung mempunyai bak cuci tangan (wastafel) dan toilet, warung nampak kotor dan tak rapi, banyak lalat, hingga waktu penyajian yang lama. Hal-hal seperti itu bisa menyurutkan minat pengunjung.
"Padahal, dalam pariwisata, itulah nilai yang bisa dijual. Jika beranggapan bahwa pengunjung tetap datang meski penyajian masakan dan tampilan warung asal-asalan, maka obyek wisata tak bakal maju. Saya yakin, asalkan masakan enak, penyajian bagus, dan kenyamanan terjamin, pengunjung tak keberatan jika harga agak mahal," paparnya.
Rani (24), warga Janti, Sleman, mengeluh tentang warung. Suasana di warung selalu panas, gerah, kotor. Tak ada kipas angin, dan lalat berseliweran membuat tidak nyaman.
"Padahal saya ke warung tak hanya untuk makan, tapi juga istirahat dan ngobrol. Harga ikan kadang mahal dan memasaknya sangat lama. Ini belum tentang tarif parkir Rp 2.000 yang menurut saya kelewat mahal," ujar Rani.
Sumarman Jatmiko Hajar, ketua Koperasi Mina Bahari 45 Depok mengakui, memang masih sulit menanamkan kesadaran bagi 40 pemilik warung di pantai Depok untuk membenahi warungnya agar nyaman.
"Padahal, mereka juga pernah mengikuti beberapa pelatihan. Cara pandang sulit diubah berubah karena tingkat pendidikan mereka rata-rata rendah. Yah, harus perlahan, tidak bisa dalam waktu cepat. Keluhan terhadap warung dan kebersihan pantai, akan selalu saya sampaikan ke teman-teman," ucapnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Bantul Suyoto mengakui banyak k eluhan terkait ketidaknyamanan di Depok, juga pelayanan warung. "Pantai Depok juga mesti lebih dikenal. Di Jawa, orang mungkin sudah kenal pantai ini dan potensi kulinernya. Tapi mereka yang dari luar Jawa, belum tentu kenal," ujar Suyoto.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang