NEW YORK, KOMPAS.com - Harga minyak berakhir melemah dalam perdagangan yang berubah-ubah dan terlihat naik lebih dari dua dollar AS didukung oleh melemahnya dollar AS dan kerusuhan politik di produsen minyak mentah utama Iran dan Nigeria. Kontrak berjangka utama New York, minyak mentah "light sweet" untuk pengiriman Juli, turun 15 sen dari penutupan Senin menjadi berakhir pada 70,47 dollar AS per barel. Harga berayun dari harga rendah 69,80 dollar AS ke 72,77 dollar AS.
Di London, minyak mentah "Brent North Sea" untuk penyerahan Agustus masih datar pada 70,24 dollar AS per barel. Menurut analis, pasar menguat di tengah melemahnya dolar AS dan indikasi dari pemulihan perumahan AS, tetapi kekhawatiran tentang permintaan dan kemungkinan bahwa harga pada posisi tertinggi tujuh tahun mungkin naik terlalu cepat dan mengurangi minat para investor.
Bart Melek dari BMO Capital Markets mengatakan, pasar semula merespon melemahnya dolar AS dan relatif positifnya data perumahan AS, namun akhirnya mengalah kepada "berlanjutnya kekhawatiran permintaan dan kekhawatiran bahwa pasar bergerak naik terlalu tinggi, terlalu cepat."
Selain dari perkembangan prospek pemulihan global, harga telah sejalan dengan dolar dalam beberapa pekan terakhir.
Dolar yang melemah cenderung meningkatkan permintaan terhadap minyak mentah yang dihargakan dalam dolar, karena komoditas tersebut menjadi lebih murah untuk pembeli yang memegang mata uang lebih kuat. Harga pada Selasa pagi telah menguat karena mata uang tunggal Eropa naik terhadap dolar AS di tengah berita bahwa keyakinan investor di ekonomi Jerman naik untuk delapan bulan berjalan
"Adalah masih penting untuk tetap menjaga memantau dolar," kata analis Andrey Kryuchenkov dari VTB Capital di London. "Untuk saat ini ... (pasar minyak) dapat tetap tenang sampai Rabu (17/6) sore ketika data energi AS diumumkan," tambahnya.
Laporan mingguan cadangan energi AS merupakan faktor utama karena Amerika Serikat adalah negara konsumen minyak terbesar dunia, diikuti oleh China. Harga minyak yang pulih dari kemerosotan sejak mencapai puncak bersejarah di atas 147 dollar AS per barel pada Juli.
Sementara itu kerusuhan di Iran dan Nigeria tetap menjadi fokus untuk para pedagang, menurut analis komoditas Commerzbank Eugen Weinberg. "Selain dari China, peminat minyak, yang digabung dengan ... melemahnya dollar AS, maka risiko geopolitik mendasari pengarah pasar," kata Weinberg.
"Kerusuhan politik menyusul pemilihan presiden di Iran dan serangan bom pada kilang minyak di Nigeria merupakan bahan peledak campuran untuk pasar minyak." Walaupun Iran berkapasitas cadangan besar, "Saya yakin jika situasi di Iran berubah menjadi perang saudara pasar akan mulai peduli," kata Phil Flynn dari Alaron Trading.