Usai Melambung Tinggi, Harga Minyak Kembali Melorot

Kompas.com - 17/06/2009, 05:58 WIB

NEW YORK, KOMPAS.com - Harga minyak berakhir melemah dalam perdagangan yang berubah-ubah dan terlihat naik lebih dari dua dollar AS didukung oleh melemahnya dollar AS dan  kerusuhan politik di produsen minyak mentah utama Iran dan Nigeria.  Kontrak berjangka utama New York, minyak mentah "light sweet" untuk pengiriman Juli, turun 15 sen dari penutupan Senin menjadi berakhir pada 70,47 dollar AS per barel. Harga  berayun dari harga  rendah 69,80 dollar AS ke 72,77 dollar AS.
     
Di London, minyak mentah "Brent North Sea" untuk penyerahan Agustus masih datar pada 70,24 dollar AS per barel. Menurut analis, pasar menguat di tengah melemahnya dolar AS dan indikasi dari pemulihan perumahan AS,  tetapi kekhawatiran tentang permintaan dan kemungkinan bahwa harga pada posisi tertinggi tujuh tahun mungkin naik terlalu cepat dan mengurangi minat para investor.
     
Bart Melek dari BMO Capital Markets mengatakan, pasar semula merespon melemahnya dolar AS dan relatif positifnya data perumahan AS, namun akhirnya mengalah kepada  "berlanjutnya kekhawatiran permintaan dan kekhawatiran bahwa pasar bergerak naik terlalu tinggi, terlalu cepat."
Selain dari perkembangan prospek pemulihan global, harga telah sejalan dengan dolar dalam beberapa pekan terakhir.
     
Dolar yang melemah cenderung meningkatkan permintaan terhadap minyak mentah yang dihargakan dalam dolar, karena komoditas tersebut menjadi lebih murah untuk pembeli yang memegang mata uang lebih kuat. Harga pada Selasa pagi telah menguat karena mata uang tunggal Eropa naik terhadap dolar AS di tengah berita bahwa keyakinan investor di ekonomi Jerman  naik untuk delapan bulan berjalan
     
"Adalah masih penting untuk tetap menjaga memantau dolar," kata analis Andrey Kryuchenkov dari VTB Capital di London. "Untuk saat ini ... (pasar minyak) dapat tetap tenang sampai Rabu (17/6) sore ketika data energi AS diumumkan," tambahnya.
     
Laporan mingguan cadangan energi AS merupakan faktor utama karena Amerika Serikat adalah  negara konsumen minyak terbesar dunia, diikuti oleh China. Harga minyak yang pulih dari kemerosotan sejak mencapai  puncak bersejarah di atas 147 dollar AS per barel pada Juli.
     
Sementara itu kerusuhan di Iran dan Nigeria tetap menjadi fokus untuk para pedagang, menurut analis komoditas Commerzbank Eugen Weinberg. "Selain dari China, peminat minyak, yang digabung dengan ... melemahnya dollar AS, maka risiko geopolitik mendasari pengarah pasar," kata Weinberg.
     
"Kerusuhan politik menyusul pemilihan presiden di Iran dan serangan bom pada kilang minyak di Nigeria merupakan bahan peledak campuran untuk pasar minyak."   Walaupun Iran berkapasitas cadangan besar, "Saya yakin jika situasi di Iran berubah menjadi perang saudara pasar akan mulai peduli," kata Phil Flynn dari Alaron Trading.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau