Tim SBY-Boediono: Kirain Bukan Pejabat

Kompas.com - 17/06/2009, 22:21 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Tim kampanye Nasional SBY-Boediono mengakui telah alpa saat menyusun nama timkamnasnya. Hal tersebut dikarenakan adanya wacana perbedaan tafsiran definisi pejabat BUMN sebagaimana tertera dalam Umum UU Nomor 42 tentang Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden.

Hal tersebut disampaikan Koordinator Hukum dan advokasi timkamnas SBY-Boediono, Amir Syamsuddin, seusai memberikan klarifikasi kepada Bawaslu terkait dugaan keterlibatan pejabat BUMN dalam timkamnas, di Kantor Bawaslu, Jakarta.

"Ada yang menyatakan bahwa pejabat itu adalah hanya mereka yang duduk dalam jajaran direksi, sedangkan komisaris bukan pejabat BUMN," tuturnya, Rabu (17/6) malam.

Dalam UU Nomor 42 Tahun 2008 tentang Pemilu Presiden dan Wakil Presiden Pasal 217 disebutkan, pejabat BUMN/BUMD dilarang ikut serta dalam kegiatan kampanye. Lebih jauh Amir menyesalkan keberadaan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) yang baru mempermasalahkan hal ini sekarang. Padahal, pihaknya telah menyampaikan daftar timkamnas SBY-Boediono jauh-jauh hari sebelum kampanye dimulai.

Daftar tersebut telah diserahkan ke KPU dan Bawaslu. "Jauh hari sebelum jadwal kampanye dipercepat, daftar timkamnas ini sudah dikirim ke KPU dan Bawaslu. Mengapa baru sekarang dipermasalahkan," tuturnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau