Jasad Onis Menciut

Kompas.com - 18/06/2009, 10:23 WIB

BANDUNG, KOMPAS.com — Jasad Onis, TKI yang meninggal dunia di Kuching, Sarawak, Malaysia, menghitam serta menciut.
    
Berdasarkan foto yang diperlihatkan Syamsu (29), anak dari ayah angkat Onis, Dindin Kholisudin (60), Kamis (18/6) pagi, jenazah Onis dibalut dengan kain kafan warna putih, dengan keadaan menghitam dan sudah menciut.
    
Saymsu mengatakan, efek samping formalin yang digunakan pada jenazah Onis membuat jasad Onis menciut dan berwarna hitam. "Tadi malam begitu tiba, keluarga membuka peti jenazahnya dan bau formalin sangat menyengat sekali," kata Syamsu.
    
Dikatakannya, jenazah Onis tiba di rumahnya di Kampung Cijati RT 03/RW 13, Desa Sarimukti, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat, pada pukul 22.48 WIB Rabu (17/6). Jenazah Onis tiba diantar dengan menggunakan ambulans dan didampingi langsung oleh Staf Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia Departemen Luar Negeri Prof Suseno.
   
Suami Onis, Mahruf, beserta keempat anaknya tampak duduk di samping peti mati jenazah. Raut kesedihan tampak di wajah Mahruf dan anak pertama mereka, Saefudin. Rencananya, jenazah Onis akan dikebumikan di tempat pemakaman umum yang jaraknya lebih kurang 150 meter dari rumah duka.
    
Bupati Bandung Barat dan Kepala Dinas Ketenagakerjaan Bandung Barat dikabarkan akan menghadiri pemakaman Onis. Onis (39), warga Desa Kampung Cijati, Desa Sarimukti, RT 03/ RW 13, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat, berangkat menjadi TKI ke Malaysia pada tanggal 24 Desember 2008 melalui PJTKI bernama PT Dwi Cahya Primadona yang beralamat di Cileungsi, Bogor.
    
Namun, setelah diselidiki lebih lanjut oleh aparat Desa Darimukti, ternyata PJTKI penyalur Onis telah bangkrut dan tidak memiliki izin. Dalam surat keterangan yang diberikan oleh Konsulat Jenderal RI di Kuching, Malaysia, Onis ditemukan tewas karena gantung diri pada 26 Mei 2009 di rumah majikannya oleh Kepolisian Sibu, Sarawak, Malaysia.
    
Sebelumnya, awal tahun 2000, Onis juga sempat berangkat ke Malaysia untuk menjadi buruh di sebuah perkebunan kelapa sawit. "Ibu saya sudah dua kali jadi TKI di Malaysia, yang pertama itu kerja di perkebunan sawit, tapi cuma sebentar," kata anak pertama Onis, Saefudin.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau