Bangun Ekonomi Kerakyatan Perlu Komitmen Kepala Daerah

Kompas.com - 18/06/2009, 17:28 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Selama masa kampanye ini, ketiga pasangan capres/cawapres selalu menggembar-gemborkan tentang ekonomi kerakyatan. Menurut Gubernur Kaltim Teras Narang, hal tersebut tidak akan berjalan tanpa adanya komitmen dari kepala daerah. 

"Ekonomi kerakyatan tidak akan bergerak bila tidak ada komitmen. Dan komitmen harus bermuara dari kepala daerah," ujar Teras di Gedung Bapilpres PDI-P, Jalan Teuku Cik Ditiro, Jakarta, Kamis (18/6).

Ia menuturkan, bila keinginan kepala daerah kuat, tak mengherankan kalau ekonomi kerakyatan akan juga berjalan dengan kuat. Yang terpenting adalah berikan keleluasan penuh kepala daerah untuk mengembangkan otonomi daerahnya.

"Turun ke bawah adalah kata kunci. Tidak akan ada ekonomi kerakyatan bila kepala daerah tidak mengetahui yang dibutuhkan rakyatnya," ujarnya.

Dia juga menilai, membangun ekonomi kerakyatan tak perlu harus berutang kepada pihak asing karena utang pada prinsipnya harus dibayar dan hal tersebut akan memberatkan masyarakat.

Lebih jauh ia menjelaskan, dengan kemauan yang keras, dirinya dapat memperbaiki hutan-hutan yang sempat rusak dan sumber dananya berasal dari sumber daya Kalteng sendiri.

"Saya melakukan rehabilitasi atas arahan Mega supaya membuat master plan dulu. Kita gunakan sumber yang ada tanpa melakukan pinjaman luar negeri atau minta dari APBN. Hasilnya, pemasukan daerah tahun 2007 Rp 1,1 triliun, tahun 2008 Rp 1,3 triliun, dan sekarang sudah bermain di angka Rp 1,6 triliun," pungkasnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau