Mega Tuding, SBY Bantah

Kompas.com - 18/06/2009, 20:42 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Menurut calon presiden yang didukung Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan dan Gerindra, Megawati Soekarnoputri, masalah lumpur Lapindo masih terkatung-katung karena pemerintah kurang tegas menanganinya.

"Mereka yang ragu-ragu apakah ini bencana alam atau industri sebenarnya bisa membawanya ke ranah hukum, karena dengan bukti bisa diselesaikan secara hukum," ujar Mega dalam acara debat capres di stasiun Trans TV, Kamis (18/6). "Seharusnya pemerintah harus mengambil alih (masalah) Lapindo."

Pernyataan itu ditanggapi capres dari Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono dengan mengatakan bahwa semua bisa ditangani dan tidak ada pihak yang ditelantarkan. "Penyelesaian berjalan terus dan kita memang belum bisa hentikan luapan lumpur walau sudah datangkan ahli. Kita bagi mana porsi Lapindo, mana yang bukan," ujar SBY saat mendapat giliran berbicara. 

"Kalau terpilih kita akan review untuk penyelesaiannya. Yang jelas semuanya kita tangani, tidak ada yang ditelantarkan," ujar SBY yang juga berencana membuka komunikasi dengan masyarakat. "Apa yang kami lakukan sudah bisa selesaikan masalah, walaupun belum selesai, tapi kami komitmen untuk selamatkan rakyat," lanjutnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau