Inilah Alasan Mousavi Begitu Populer di Iran

Kompas.com - 19/06/2009, 08:05 WIB

KOMPAS.com — Semua koran masih menyoroti gelombang aksi unjuk rasa di Teheran memprotes hasil pemilu presiden Iran. Pendukung mantan Perdana Menteri Mir Hossein Mousavi semakin besar. Mousavi sebenarnya tidak banyak berbeda dengan rezim yang bekuasa, tetapi dia paling tidak menjanjikan kebebasan yang lebih besar.

Mousavi semakin populer terutama karena warga Iran sudah jenuh dengan kebijakan Presiden Mahmoud Ahmadinejad, demikian koran Nrc Handelsblad mengutip Majid Hosseini, seorang analis politik di Teheran. "Semakin banyak warga Iran mendukungnya karena mereka cemas akan politik Ahmadinejad," ujar Majid Hosseini.

Mir Hossein Mousavi, seorang arsitek dan mantan perdana menteri Iran, dipandang sebagai seorang intelektual yang tidak rakus kekuasaan. Ia berupaya untuk memperbaiki ekonomi dan mengangkat kembali Iran dari isolasi politik internasional. Setelah revolusi Islam, Mousavi menjadi lebih pragmatis.

Dalam sebuah pidato di televisi ia pernah mengatakan bahwa semboyan kampanyenya adalah menghilangkan ketakutan. "Ketakutan tidak hanya berdampak psikologis. Harus ada ketenangan di masyarakat," tegasnya.

Dalam debat di televisi ia dengan lantang menuduh Ahmadinejad membohongi rakyat dengan mengatakan bahwa inflasi dan pengangguran menurun. "Presiden yang pembohong tidak akan dipercaya rakyat. Rakyat Iran menganggap itu munafik". Demikian Mousavi dalam debat televisi dengan presiden Ahmadinejad dan capres lain, Mahdi Karroubi.

Situasi yang meresahkan di Iran atau di manapun di dunia seperti biasa dipantau dengan cermat oleh Pemerintah AS. Serta merta timbul pertanyaan, haruskah Presiden Barack Obama mendukung oposisi ataukah hal itu akan langsung dicap oleh rezim yang berkuasa sebagai campur tangan Amerika dalam urusan negara lain?

Tampaknya Obama mengambil pelajaran dari sikap Washington dalam kerusuhan di Praha 1968, Beijing 1989, atau Birma 2007. Mengenai situasi di Iran, Obama mencemaskan aksi unjuk rasa yang ditindak dengan kekerasan. Namun, ia menambahkan bahwa Amerika menghormati kedaulatan Iran dan tidak mau dituduh mengompori kubu mana pun.

Sikap Obama serta merta dikritik Senator Partai Republik John McCain saingannya di pemilu presiden. Menurut McCain, Obama tidak tegas. Harian The Wall Street Journal mengimau Obama agar mengikuti jejak Presiden Perancis Nicolas Sarkozy yang berani memberikan pendapatnya dengan tegas.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau