Pilih Kuliah, Prima Gantung Raket

Kompas.com - 19/06/2009, 12:18 WIB

JAKARTA, Kompas.com - Petenis nasional Prima Simpatiaji merencanakan akan gatung raket dan tidak meneruskan karirnya sebagai petenis berkelas dunia, karena ingin menyelesaikan kuliah.

"Saya pernah kuliah di Univesitas Diponegoro (Undip) Semarang, namun terputus akibat terganggu oleh karir tenis," kata Prima disela-sela istirahat usai bertanding di lapangan tenis Hotel Sultan, Jumat.

Ia mengatakan, saat kuliah di Undip itu kebetulan dia mengalami cedera pada lutut sekitar tahun 1998-1999, setelah sembuh dia ditarik pak Bejo (pelatihnya) ke Jakarta.  Selama di Jakarta kuliah itu otomatis terputus dan meningkatkan karir sampai menjadi juara di beberapa event nasional dan luar negeri.
  
Di sela-sela kesibukan di Jakarta pihaknya masih menyempatkan kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta dan sekarang masih duduk di semester dua fakultas ekonomi. Kuliah ini akan diteruskan sampai selesai, karena kebetulan pada tahun 2009 dirinya diterima menjadi pegawai negeri sipil(PNS) di Kabupaten Tegal tempat kelahirannya.
 
Karir PNS itu tidak akan bisa meningkat kalau tidak mengantongi ijazah sarjana, ujarnya sembari mengatakan bahwa posisinya di PNS Tegal itu sebagai pelatih olaharga di Dinas Pemuda dan Olaharga (Dispora) setempat.

Prima menyebutkan, karir olahraga tenis yang digelutinya sejak kelas dua sekolah Dasar (SD) itu sudah berhasil menggondol beberapa gelar juara baik di tingkat nasional maupun manca negara.

Untuk juara dalam negeri pihaknya beberapa kali mendapatkan medali emas antara lain pada Pekan Olahraga (PON) 2000 di Surabaya dan terakhir di Sumatera Selatan 2004.
  
Selain itu beberapa medali di beberapa negara Asia  antara lain pada tahun 2001 mendapat medali perak di Australia dan mendapat emas di Vietnam tahun 2003. 

Berbagai piala di kejuaraan nasional diraihnya di antara kejuaraan Gubernur DKI tahun 2009 dan sekarang sedang mengikuti kejuaraan Kapolri 2009, ujar petenis berusia 28 tahun itu. "Saya harus memikirkan masa depan, karena prestasi olahraga di Indonesia tidak bisa menjamin masa depan cerah seperti atlet di luar negeri," katanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau