JAKARTA, Kompas.com - Petenis nasional Prima Simpatiaji merencanakan akan gatung raket dan tidak meneruskan karirnya sebagai petenis berkelas dunia, karena ingin menyelesaikan kuliah.
"Saya pernah kuliah di Univesitas Diponegoro (Undip) Semarang, namun terputus akibat terganggu oleh karir tenis," kata Prima disela-sela istirahat usai bertanding di lapangan tenis Hotel Sultan, Jumat.
Ia mengatakan, saat kuliah di Undip itu kebetulan dia mengalami cedera pada lutut sekitar tahun 1998-1999, setelah sembuh dia ditarik pak Bejo (pelatihnya) ke Jakarta. Selama di Jakarta kuliah itu otomatis terputus dan meningkatkan karir sampai menjadi juara di beberapa event nasional dan luar negeri.
Di sela-sela kesibukan di Jakarta pihaknya masih menyempatkan kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta dan sekarang masih duduk di semester dua fakultas ekonomi. Kuliah ini akan diteruskan sampai selesai, karena kebetulan pada tahun 2009 dirinya diterima menjadi pegawai negeri sipil(PNS) di Kabupaten Tegal tempat kelahirannya.
Karir PNS itu tidak akan bisa meningkat kalau tidak mengantongi ijazah sarjana, ujarnya sembari mengatakan bahwa posisinya di PNS Tegal itu sebagai pelatih olaharga di Dinas Pemuda dan Olaharga (Dispora) setempat.
Prima menyebutkan, karir olahraga tenis yang digelutinya sejak kelas dua sekolah Dasar (SD) itu sudah berhasil menggondol beberapa gelar juara baik di tingkat nasional maupun manca negara.
Untuk juara dalam negeri pihaknya beberapa kali mendapatkan medali emas antara lain pada Pekan Olahraga (PON) 2000 di Surabaya dan terakhir di Sumatera Selatan 2004.
Selain itu beberapa medali di beberapa negara Asia antara lain pada tahun 2001 mendapat medali perak di Australia dan mendapat emas di Vietnam tahun 2003.
Berbagai piala di kejuaraan nasional diraihnya di antara kejuaraan Gubernur DKI tahun 2009 dan sekarang sedang mengikuti kejuaraan Kapolri 2009, ujar petenis berusia 28 tahun itu. "Saya harus memikirkan masa depan, karena prestasi olahraga di Indonesia tidak bisa menjamin masa depan cerah seperti atlet di luar negeri," katanya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang