Mencegah Kolik pada Anak

Kompas.com - 20/06/2009, 02:01 WIB

KOMPAS.com - Kolik biasa terjadi pada anak-anak usia 2 bulan hingga anak berusia 2-3 bulan. Kolik bukanlah jenis penyakit, melainkan sebuah kondisi yang diduga sebagai wujud rasa melilit di perut yang dialami bayi. Meski tidak membahayakan, namun kolik dialami oleh 20 persen bayi sehat di seluruh dunia. Hanya saja, datangnya kolik yang tiba-tiba, diiringi tangisan si kecil yang memilukan, membuat orangtua panik dan kepayahan.

Meski seringkali datang tiba-tiba dan tanpa tanda, kolik bisa dicegah. Antara lain dengan cara:

* Pemberian ASI secara eksklusif kepada bayi selama 6 bulan efektif mengurangi kejadian kolik pada bayi. Berikan ASI setiap kali bayi menginginkannya.

* Saat menyusui, posisikan bayi secara benar. Pangku bayi dengan wajah dan badannya menghadap payudara. Pundak dan kaki bayi harus dalam posisi segaris. Tempelkan perut bayi pada perut Anda, atau bagian bawah payudara yang tidak diisap. Tempelkan dagunya di payudara Anda. Jika bayi menyusu pada payudara kiri, letakkan kepalanya di siku lengan kiri ibu, sementara lengan kanan bayi seperti memeluk punggung ibu. Lengan kiri bayi bebas ke arah payudara.

* ASI adalah makanan terbaik untuk bayi namun pada beberapa kasus ibu terpaksa memberikan susu formula. Jika kejadiannya seperti ini, maka berikan susu formula dalam porsi sedikit tapi sering, agar sistem pencernaan bayi mampu menyesuaikan diri. Hindari pemberian susu formula langsung dalam jumlah banyak. Ini bisa mengakibatkan penyerapan susu menjadi lebih lama, yang berakibat proses fermentasi pun jadi berlebih, dan akan memicu kolik.

* Pastikan lubang dot sesuai dengan kapasitas bayi mengisap, dan tak ada ruang kosong di dot yang terisi udara. Udara yang masuk ke dalam lambung bayi bisa memicu kolik.

* Selalu sendawakan bayi setiap usai menyusu, baik bagi bayi yang menyusu ASI maupun susu formula. Sendawa ini penting untuk mengeluarkan udara yang mungkin masuk ke dalam perut. Teknik menyendawakan bayi yang paling mudah adalah meletakkan bayi dalam posisi berdiri di pundak dan dada kita. Tepuk-tepuk perlahan bagian punggungnya sampai si kecil bersendawa.

* Berikan makanan sesuai kemampuan pencernaan bayi, jangan memberikan makanan semipadat atau padat sebelum usia 6 bulan.

* Ciptakan suasana tenang dan nyaman pada bayi karena diduga kolik pun bisa muncul jika bayi merasa kurang aman dan nyaman. Suasana tenang juga dapat membuat bayi mudah tidur sehingga ia akan merasa lebih nyaman. Jaga emosi di depan bayi, hindari marah, kesal, dan bersikap kasar karena akan membuat bayi merasa tidak nyaman.

* Libatkan ayah untuk bergantian mengurus si kecil agar Anda tidak kelelahan hingga memancarkan emosi negatif pada bayi.

* Saat mandi sore atau menjelang tidur, lakukan pijatan ringan berupa usapan horisontal dari bagian tengah ke pinggir perut dengan kedua telapak tangan kita. Gunakan minyak telon atau baby oil. Selanjutnya tekuk lutut bayi menekan perut agar udara yang ada di lambung tertekan keluar menjadi kentut.

* Ibu menyusui sebaiknya menghindari makanan dan minuman yang mengandung gas, pedas, atau asam hingga bayi berusia 3 bulan.

Narasumber: dr. Atilla Dewanti, Sp.A, dari Empati Development Centre

(Irfan Hasuki)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau