Pemerintah Keliru jika Pilih Nuklir sebagai Energi

Kompas.com - 20/06/2009, 14:03 WIB

YOGYAKARTA, KOMPAS.com — Pemerintah Indonesia keliru jika memilih nuklir sebagai sumber energi, kata Direktur Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Suparlan.

"Berpaling ke nuklir jelas bukan jawaban bagi persoalan energi Indonesia. Sebaliknya, justru merupakan ancaman baru dalam membangun kedaulatan energi," katanya pada seminar pemanfaatan energi nuklir di Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, Sabtu (20/6).

Ia mengatakan, Indonesia akan semakin mengalami ketergantungan dengan lingkar kapitalisme global di mana teknologi, sumber pembiayaan, dan bahan baku energi sepenuhnya dikendalikan oleh pihak asing.

"Pada saat yang sama, sumber energi Indonesia terus terkuras tanpa bisa memanfaatkan untuk kemakmuran rakyat," katanya.

Menurut dia, penggunaan energi nuklir di Indonesia hanya menggantikan dua persen penggunaan energi lainnya. "Tentu saja hal itu tidak sebanding dengan apa yang telah dikorbankan untuk membangun sebuah pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN). Bahkan, Indonesia akan jatuh ke dalam perangkap nuklir," katanya.

Ia mengatakan, nuklir bukan merupakan energi terbarukan, dan cadangan uranium di alam akan menyusut, sama halnya dengan energi fosil. Dengan kapasitas penggunaan energi nuklir saat ini, diperkirakan uranium akan habis dalam kurun waktu 34 tahun.      

"Meskipun memiliki uranium, Indonesia diperkirakan harus mengimpornya dari negara penghasil, seperti Australia, Kanada, Kazakhstan, Namibia, Nigeria, Rusia, Brasil, dan Uzbekistan," katanya.

Menurut dia, nuklir juga bukan sumber daya energi yang murah. Teknologi reaktor dan persediaan uranium yang tidak banyak dan uranium yang dekat dengan permukaan akan cepat menyusut seiring dengan peningkatan jumlah listrik tenaga nuklir sehingga semakin membutuhkan biaya tinggi.

"Belum lagi faktor bahaya radiasi dari reaktor nuklir terhadap masyarakat. Sebuah penelitian resmi dari Pemerintah Jerman menunjukkan dalam keadaan normal, tingkat kanker dan leukemia pada balita meningkat 54 persen dan 74 persen," katanya.

Ia mengatakan, dampak itu belum memperhitungkan jika terjadi kecelakaan nuklir seperti yang pernah dialami Amerika Serikat (AS) dan Uni Soviet.

"Beberapa fakta kasus kecelakaan nuklir akibat kebocoran reaktor antara lain Three Mile Island, AS pada 1979, Chernobyl, Ukraina (1986), Tokai Mura, Jepang (1999), Inggris (2000), dan Swedia (2006)," katanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau