SBY Tunjukkan 6 Keberhasilan

Kompas.com - 21/06/2009, 05:49 WIB
PEKANBARU, KOMPAS.com — Calon presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengemukakan enam pokok keberhasilan pemerintah selama lima tahun dipimpinnya. Capres SBY menyatakan hal itu dalam kampanye di Gelanggang Olahraga Rumbai, Pekanbaru, Riau, Sabtu (20/6).

Keberhasilan itu, katanya, pertama, politik makin stabil tanpa gonjang-ganjing seperti periode sebelumnya. Selama lima tahun terakhir juga tidak ada krisis kepemimpinan politik. ”Ini contoh keberhasilan yang mesti disyukuri,” ujar SBY yang dahi dan lehernya bercucuran keringat.

Kedua, hukum, hak asasi manusia, dan korupsi makin tajam, keras, dan menggigit. Lima tahun lalu Indonesia masuk urutan kelima dari bawah negara terkorup, saat ini menjadi nomor 55 dari bawah. ”Sudah 134 pejabat negara yang saya izinkan diperiksa,” ujarnya.

Ketiga, keamanan di Aceh, Poso, Ambon, dan Papua pulih kembali. Kerusuhan yang dulu banyak terjadi, dalam lima tahun terakhir, tidak lagi terjadi.

Keempat, ekonomi tumbuh di atas 6 persen meskipun krisis dunia terjadi. Lima tahun sebelumnya, ekonomi hanya tumbuh 5 persen. ”Ini prestasi yang membanggakan,” ujar SBY.

Lebih rinci SBY menjelaskan, pendapatan negara naik, dari Rp 2.200 triliun menjadi Rp 5.000 triliun. Pendapatan per kepala naik dari 1.200 dollar AS menjadi 2.300 dollar AS. Utang IMF Rp 72 triliun dilunasi empat tahun lebih awal. Rasio utang terhadap pendapatan turun dari 54 persen menjadi 32 persen.

Kelima, kesejahteraan rakyat diklaim meningkat dengan turunnya angka kemiskinan, turunnya jumlah penganggur, naiknya penghasilan pegawai, naiknya anggaran pendidikan, dan digulirkannya banyak program prorakyat, seperti pendidikan dan kesehatan gratis, beras untuk rakyat miskin, dan bantuan langsung tunai.

Keenam, dalam hubungan internasional, Indonesia makin dihargai dan diperhitungkan. Menurut SBY, Indonesia tidak dilecehkan lagi, tetapi justru dihormati bangsa-bangsa di dunia.

”Semua keberhasilan itu bukan hanya kerja satu orang, tetapi seluruh rakyat Indonesia di mana saya adalah pemimpinnya,” ujar SBY.

Di samping keberhasilan itu, SBY mengakui banyak pekerjaan rumah yang harus dilakukan dengan kerja keras dan melanjutkan pemerintahan. Pekerjaan rumah itu, antara lain, membuat pertumbuhan ekonomi lebih tinggi, menurunkan angka kemiskinan, meningkatkan penghasilan masyarakat, menambah pasokan listrik dan energi.

Sebelum berkampanye di GOR Rumbai, SBY didampingi Ny Ani Yudhoyono dan Edhie Baskoro Yudhoyono datang ke Pasar Bawah, Pekanbaru. Di sini, SBY menyapa pedagang dan menjelaskan kredit usaha rakyat (KUR) untuk modal usaha.

Seusai kampanye di Pekanbaru, Riau, Sabtu malam, SBY didampingi Ny Ani bersilaturahim dengan ratusan tokoh agama, tokoh masyarakat, dan pimpinan pondok pesantren se-Sumatera Utara di Asrama Haji, Medan. Saat silaturahim, SBY didoakan para kiai agar meraih kemenangan sehingga dapat melanjutkan kepemimpinan lima tahun mendatang.

Sementara itu, Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) Kabupaten Blora menemukan tiga pelanggaran dalam acara Deklarasi Tim Kampanye SBY-Boediono Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Pelanggaran itu berupa melibatkan anak-anak, menggunakan fasilitas negara, dan melibatkan pegawai negeri sipil (PNS). Deklarasi itu berlangsung di Gedung Sasana Bhakti Blora, Sabtu. (HEN/INU)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau