Hari Gini Masih Ribuan Anak Kekurangan Gizi, Keterlaluan

Kompas.com - 21/06/2009, 17:25 WIB

CIKARANG, KOMPAS.com - Sebanyak 1.600 anak mengalami kekurangan gizi, dan 95 anak penderita gizi buruk di Kabupaten Bekasi, namun Pemerintah Kabupaten Bekasi telah mengalokasikan anggaran penanggulangannya.

"Alokasi anggaran itu untuk menangani gizi buruk melalui Pemberian Makanan Tambahan (PMT) sebesar Rp700 juta guna disalurkan kepada mereka," kata Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat dan Gizi, Dinas Kesehatan Kabupaten Bekasi drg Pantja Lihestinengsi di Cikarang, Minggu (21/6).

Ia mengatakan dari total 23 kecamatan di Kabupaten Bekasi, tiga diantaranya memiliki jumlah penderita kekurangan gizi terbanyak.

"Yakni, Kecamatan Karang Bahagia, Muara Gembong, dan Babelan. Ini adalah data terbaru hingga akhir tahun 2008," katanya.

Menurut dia, besar kecilnya anggaran bukan merupakan persoalan dasar menanggulangi masalah gizi di wilyah tersebut, namun yang terpenting mengubah perilaku masyarakat terhadap pentingnya masalah kesehatan. "Itu cara yang lebih efektif untuk menanggulangi kendala kami di lapangan," katanya.

Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) yang kian memudar kepopulerannya di mata masyarakat, sebenarnya menjadi media yang efektif untuk memberikan pengetahuan tentang gizi buruk dan bagiaman mengatasinya.

"Tidak hanya PMT diberikan, setelah itu jika anggaran dari Pemkab tidak ada, prilaku ibu-ibu untuk memberikan asupan gizi kepada anak-anaknya akan terhenti lagi," katanya.

Mengawali tahun 2009, kematian akibat gizi buruk menimpa seorang anak di Kecamatan Wanaraja. Sementara di tahun 2008, tercatat dua anak meninggal akibat gizi buruk.

"Kebanyakan kasus gizi buruk dilatarbelakangi persoalan ekonomi. Kami sulit untuk menyebuhkan kasus gizi buruk, kecuali masih dalam taraf gizi kurang," katanya.

Kendati demikian, kemisikinan bukan menjadi faktor utama adanya kasus gizi buruk, dari sejumlah kasus yang sepat tertangani, sejumlah anak mengalami gizi buruk dari kalangan keluarga yang mampu.

"Hal ini Karena ketidakpedulian orang tua terhadap kesehatan anak hingga menyebabkan kasus gizi buruk," katanya.

Upaya untuk menanggulangi penderita gizi buruk selama ini dilakukan dengan cara memberikan PMT, namun hasilnya juga tidak terlalu efektif, karena disaat PMT dihentikan, ternyata prilaku masyarakat kembali lagi.

"Yang paling efektif adalah melakukan penyuluhan bagi orang tua, bagaimana asupan makanan yang tepat. Makan sehat tidak harus mahal," kata Pantja Lihestinengsi.

Herlina (28) warga Cikarang mengaku tidak pernah membawa anaknya ke Posyandu. "Saya tidak pernah ke Posyandu, alamatnya saja saya tidak tahu. Anak saya kurus karena dia jarang makan aja," ujar Herlina sambil menggendong anaknya yang berusia dua tahun, namun berat badannya hanya 10 kg.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau