Hidayat Nurwahid: Dukung SBY Karena Platform PKS Disetujui

Kompas.com - 21/06/2009, 20:07 WIB

BENGKULU, KOMPAS.com - Mantan Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Hidayat Nurwahid menyatakan, keputusan PKS mengusung pasangan SBY-Boediono dalam pemilihan presiden (pilpres) bukan membabi buta karena tidak bisa mengusung calon presiden sendiri.

"Kita mengusung pasangan SBY-Boediono bukannya membabi buta bukan karena kekuasaan, tapi platform yang kita ajukan disetujui," kata Hidayat Nurwahid dalam kampanye pilpres di Bengkulu, Minggu (21/6).

Ia menyatakan, makan babi bagi umat Islam haram, apalagi makan babi buta, yang berarti dua kali lebih haram.

Dia mengungkapkan, saat ini beredar isu kalau makanan tertentu atau menyedap makanan mengandung minyak atau daging babi maka lebih haram lagi.

Keinginan PKS mengusung SBY-Boediono murni karena pasangan tersebut yang paling siap dan menerima seluruh platform yang diajukan PKS.

Platform yang diajukan PKS dimanfaatkan oleh pasangan tersebut untuk menarik simpatik partai lain dalam berkoalisi.

Platform yang diajukan PKS, antara lain, pemberantasan korupsi, persoalan HAM, ekonomi kerakyatan dan terciptanya stabilitas keamanan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Selain itu, untuk urusan eksternal atau luar negeri PKS minta SBY-Boediono mendukung penuh kedaulatan bangsa Palestina dan bila perlu turun langsung ikut memperjuangan Palestina hingga merdeka.

PKS juga minta pasangan tersebut menutup kran politik dan kerjasama dengan negara Israel. "Jangankan menjalin kerjasama dengan Israel, sampai saat inipun kita tidak mengakui keberadaan negara tersebut karena sudah merampas tanah dan mendzalimi umat Islam di negara tersebut," kata nurwahid.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau