Nurwahid: Boediono Bukan Penganut Neoliberal

Kompas.com - 21/06/2009, 23:23 WIB

BENGKULU,KOMPAS.com-Ketua MPR Hidayat Nurwahid menegaskan, tuduhan yang menyebutkan Boediono, cawapres pasangan SBY, sebagai penganut neoliberal sama sekali tidak benar.

"Tuduhan itu tidak berdasar yang tidak lebih sebagai kampanye hitam (black campagne) dan fitnah," katanya di Bengkulu, Minggu (21/6).

Menurut dia, Boediono punya keahlian di bidang ekonomi tetapi dalam konteks mencari alternatif solusi untuk perbaikan dan keluar dari berbagai masalah ekonomi. Nurwahid sangat yakin Boediono bukan seorang neoliberal, itu kelihatan ketika menghadiri pertemuan asosiasi perbankan syariah di Jakarta, dalam kapasitasnya Gubernur Bank Indonesia.

Dalam pertemuan itu, Boediono menyatakan di tengah era krisis ekonomi global, ada satu sistem ekonomi yang tidak tergoyahkan, ada satu sistem perbankan yang bisa eksis, yakni ekonomi dan perbankan Islam. "Boediono sangat mendukung ekonomi dan perbankan syariah yang berbasiskan Islam, itu tidak akan dilakukannya kalau memang dia penganut neolieral," katanya.

Saat Boediono menjadi Gubernur BI, kata Nurwahid, keluar UU tentang Perbankan Syariah dan UU tentang Obligasi Syariah. Kedua UU tersebut merupakan mekanisme ekonomi, perdagangan, perbankan yang akan memudahkan hubungan Indonesia dengan negara yang berbasiskan ekonomi syariah.

"Kalau demikian sungguh jadi aneh bila ada yang menuduh Pak Boediono seorang neoliberal, karena seorang neoliberal tidak mungkin mendukung ekonomi syariah," tegasnya.

Namun demikian, tuduhan itu hendaknya dijadikan kritik yang sangat keras agar Boediono betul-betul berpihak pada kepentingan bangsa dan negara Indonesia serta masyarakat. "Tuduhan itu biasa terjadi. Saat pemilu atau pemilihan presiden (Pilpres) memang sering muncul kegiatan-kegiatan black campagne dan fitnah," ujarnya.

Ia berharap, pada Pilpres kali ini akan lebih baik dibandingkan pemilu legislatif lalu yang banyak fitnah, manipulasi, kecurangan dan kampanye hitam. "Marilah kita berkampanye memenangkan capres dengan cara-cara yang lebih terhormat dan bermartabat," ujarnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau