JAKARTA, KOMPAS.com — Penunjukan Harry Sasongko Tjitrotjondro, CEO GE Money, sebagai Direktur Utama PT Indosat, Tbk (ISAT) menggantikan Johny Swandi Sjam dinilai anggota Dewan Perwakilan Daerah Marwan Batubara, yang juga mantan GM pengadaan dan perlengkapan ISAT, patut menjadi pertanyaan.
"Penunjukan dia (Harry) menjadi pertanyaan, sebenarnya dia mewakili siapa?" ujar dia di Gedung Dewan Perwakilan Daerah, Jakarta, Senin (22/6).
Anggota DPD perwakilan Jakarta ini juga masih menyangsikan kemampuan Harry dalam memimpin ISAT. Menurut dia, idealnya dirut ISAT yang baru berasal dari orang-orang ISAT sendiri. "ISAT masih mempunyai banyak orang yang mampu dan mengenal perusahaan jauh lebih lama, banyak mantan pejabat ISAT menjadi pemimpin yang berhasil di perusahaan lain," kata dia.
Contohnya, lanjut dia, ada yang jadi dirut di XL, dirut di Percetakan Uang Negara Republik Indonesia (Peruri) atau Dirut Semen Padang.
Ia mengkhawatirkan pemimpin yang berasal dari luar justru akan merugikan ISAT. "Kalau orang luar dapat saja mencari keuntungan yang sebesar-besarnya. Tidak hanya dari keuntungan, tapi juga dari belanja modal, itu yang jauh lebih besar dan setiap tahun," terangnya.
Menurut Marwan, sebenarnya Johny Swandi Sjam masih pantas menduduki kursi dirut yang sekarang mayoritas sahamnya dimiliki oleh Qatar Telecom. Selain itu, masih ada Wimbo Hardjito (yang sekarang menjadi Wakil Dirut KAI) dan Wahyu Wijayadi, pensiunan Indosat. "Tapi itu semua kembali lagi pemegang saham, mereka punya hak prerogatif," tuturnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang