Demokrat: Kalau Dua Putaran, Rakyat Enggak Kerja

Kompas.com - 22/06/2009, 16:12 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Soal pemilu, satu atau dua putaran, masih ramai diperbincangkan. Kubu pasangan SBY-Boediono menjadi pihak yang pertama kali dan terus mengencangkan wacana ini. Bahkan, dengan menyebar berbagai brosur yang berisi beragam alasan mengapa pemilu lebih baik satu putaran.

Ketua DPP Partai Demokrat Ruhut Sitompul mengutarakan sejumlah alasan mengapa pihaknya menghendaki pemilu satu putaran. Ruhut mengatakan, suhu politik yang tinggi menjelang pemilu, menurutnya, turut membawa masyarakat ke dalam perbincangan soal politik.

"Contohnya di kampungku saja. Petani, pekerja semuanya ngomong politik. Kalau dua putaran, bisa enggak bekerja mereka, ikut ngomong politik saja," kata Ruhut di Jakarta, Senin (22/6).

Stabilitas sektor ekonomi juga dijadikannya alasan. Panjangnya protes pemilu, dikatakan Ruhut, bisa memengaruhi niat investor menanamkan modalnya di Tanah Air. "Kita perlu stabilitas. Investor akan mikir lagi. Apa yang akan terjadi kalau masih sibuk pemilu?" ujarnya.

Sementara itu, Ketua DPP Partai Demokrat lainnya, Anas Urbaningrum, menyatakan, timnya siap untuk melaksanakan pemilu dalam satu atau dua putaran. Jika ada pihak yang tak sepakat, menurutnya, justru orang-orang yang tidak paham demokrasi.

"Satu atau dua putaran tidak menjadi soal buat kami. Kami siap untuk menang 8 Juli, tentang kapan menangnya, satu atau dua putaran kita serahkan pada rakyat. Yang tidak paham demokrasi adalah yang menolak pilpres satu putaran, konstitusi sudah mengatur," kata Anas, dalam pesan singkatnya kepada Kompas.com.

UU mengatur, pemilu bisa berlangsung satu putaran dengan syarat memperoleh lebih dari 50 persen suara dan terdistribusi minimal 20 persen dukungan di separuh jumlah provinsi. "Janganlah ketidakpahaman tentang demokrasi dipertontonkan meski dengan alasan yang dibungkus rapi," ujar dia.

Pendapat berbeda diutarakan Direktur Lembaga Pemilih Indonesia Boni Hargens. Alasan penghematan biaya dan hal-hal teknis lain yang menjadi dasar wacana pemilu satu putaran, menurutnya, sangat menyederhanakan demokrasi.

"Demokrasi jauh lebih penting. Jangan mengabaikannya dengan hal-hal teknis. Jangan menyederhanakan pilpres satu putaran dengan hal teknis seperti biaya, dan lain-lain," kata pengajar Ilmu Politik UI ini.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau