Keberhasilan UN Hanya untuk Kepentingan Politik!

Kompas.com - 22/06/2009, 17:36 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Kepuasan pemerintah menilai hasil pelaksanaan ujian nasional (UN) yang secara persentase nasional mengalami peningkatan ditanggapi sebagai "keberhasilan yang buruk" oleh beberapa pihak.

Menurut pemerhati pendidikan, Suparman, dari Education Forum, keberhasilan tersebut tanpa memasukkan buruknya penilaian masyarakat terhadap pelaksanaan UN itu sendiri. "Satu dari sekian banyak buruknya pelaksanaan UN adalah adanya UN Pengganti," ujar Suparman, Senin (22/6).

Suparman mengatakan, dilaksanakannya UN Pengganti merupakan perlakuan tidak adil terhadap siswa. Pelaksanaan "UN Ulang" ini, lanjutnya, hanya untuk memuaskan kekuasaan politik tanpa mempertimbangkan aspek-aspek pedagogis.

"Di Bone, Sulawesi Selatan, siswa bahkan tidak tahu apa yang mau diujikan, sementara guru-guru mereka baru tahu kalau ada UN Pengganti melalui media. Nah, bisa saya bilang UN memang hanya untuk mementingkan aspek politik, lain tidak," ujar Suparman.

Selain itu, tambah Suparman, UN mestinya hanya dijadikan sebagai alat pemetaan kualitas saja, tetapi bukan alat penentu kelulusan atau evaluasi akhir tahapan belajar.

"Karena UN tidak dikumulatifkan dengan nilai lainnya, belum lagi persoalan banyaknya kesalahan teknis pada penilaian dan sebagainya. Mungkin itu yang membuat UN belum pas dijadikan alat penentu," ujar Suparman.

Sementara itu, menurut pengamat politik Rocky Gerung, sah saja pemerintah mengaku demikian. Toh, menurut Rocky, yang lebih penting dicamkan adalah, UN hanya sekadar sebuah ukuran kuantitatif yang dipakai sebagai tolok ukur daya saing.

"Ya, tidak lebih dari itu, sebab UN tidak bisa menjadikan anak didik kita kritis dan berani berargumentasi dengan gurunya tanpa membuat si guru tersinggung," ujar Rocky.

UN adalah upaya mencari standar nilai, tambah Rocky, yang hanya berupa sebuah kumpulan angka-angka yang disebut dengan prestasi. Namun, kreativitas, daya kritis, serta nilai-nilai lain yang lebih luhur bagi perkembangan anak didik selanjutnya tetap tidak bisa diukur oleh UN.

"Padahal, semua itu lebih penting ketimbang angka-angka. Di sini, UN akan terus ada sebagai alat kepentingan politik, mengikuti sistem pendidikan yang feodal, yaitu teacher knows better," ujarnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau